Mutiara Ramadan

H Muhdi: Mari Kita Asah Kepedulian Sosial

Agama Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) (Q.S 21:107) sungguh benar dan terbukti

tribunjateng/ist
Drs. H. Muhdi, M.Ag Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agama Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) (Q.S 21:107) sungguh benar dan terbukti, bahwa agama Islam tidak hanya menekankan hablum mina-Allah semata tetapi juga hablum mina an-nas.

Islam bukanlah agama yang hanya menekankan aspek ritual dan melupakan aspek sosial tetapi Islam sangat memperhatikan kepekaan dan kepedulian sosial. Seorang muslim bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Seorang muslim mempunyai kewajiban terhadap muslim lainnya, wajib memperhatikan lingkungan sekitarnya terutama yang membutuhkan pertolongan. Jika ia mampu maka hendaklah menafkahkan hartanya/memberikan makan kepada fakir miskin, demikianlah beberapa ajaran Islam.

Dalam Islam kepedulian sosial merupakan manifestasi akhlak dan bagian dari ketaqwaan seseorang. Ajaran Islam dalam berinteraksi sosial sesuai syari’at juga ditunjukkan adanya perintah saling tolong menolong, saling memberikan nasihat, persamaan derajat, kebersamaan dan bentuk hubungan persaudaraan lainnya.

Kepedulian sosial sangat ditekankan tidak hanya dalam lingkup keluarga, saudara, teman dan kehidupan bertetangga tetapi juga dalam lingkup bermasyarakat dan bernegara. Hal ini dikenal dengan istilah ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah. Ajaran Islam tentang kepedulian sosial termaktub di beberapa ayat Alquran dan Hadits antara lain berupa pemberian zakat, infak dan sedekah.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, perkataan zakat selalu dibarengkan dengan perintah shalat dalam Alquran. Hampir semua kalimat “wa aqiimush sholaat” (dan dirikanlah sholat) diiringi dengan “wa aatuz zakat” (dan tunaikanlah zakat). Mendirikan sholat merupakan ibadah yang bersifat ritual, sedangkan membayarkan zakat adalah ibadah sosial. Hal ini menunjukkan bahwa aspek ritual ibadah tidak bisa dipisahkan dan selalu beriringan dengan aspek sosial.

Ajaran Islam juga tidak boleh membiarkan saudaranya kelaparan sementara kita kenyang. “Tidaklah mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya,” (HR Al Bukhari). Jika orang sudah beriman maka selayaknya memiliki sensivitas atau kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya terutama tetangga.

Dalam sebuah hadist lain disebutkan bahwa membantu orang lain tidak hanya bermanfaat bagi si penerima tetapi juga bermanfaat bagi pemberi. “Barangsiapa yang melepaskan seseorang muslim dari satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat”. (HR Abu Hurairah).

Seseorang yang mempunyai kepedulian terhadap sesama maka Allah SWT akan memberikan kemudahan baginya di akhirat. Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda: “Apakah engkau mau aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebajikan”? Kemudian Sahabat menjawab : “Baik, ya Rasulluah,”. Nabi Bersabda : “Ketahuilah bahwa puasa itu sebagai perisai dan shadaqah itu memadamkan kesalahan bagaikan air memadamkan api,”.

Pelaksanaan ritual sosial bermanfaat bagi pemberi dan penerimanya. Misalnya tentang zakat dijelaskan sebagai pembersih untuk mensucikan diri atau harta seseorang (Q.S At Taubah: 103). Bagi seseorang yang membantu orang lain disamping akan mendapat pahala, Allah SWT juga akan memberikan balasan yang berlipat dari bantuan yang diberikan kepada orang lain. Manfaat lain bagi si pemberi adalah merasa bahagia dan puas jika sudah bisa membantu sesama. Jadi hakikatnya membantu orang lain adalah juga membantu diri sendiri.

Taqwa mempunyai dimensi hablum mina-Allah dan hablum mina-annas. Dalam bahasa lain, dua dimensi taqwa yakni kesalihan individu dan kesalihan sosial. Kesalihan individu berupa ketaatan makhluk kepada hambaNya dengan menjalankan perintah-perintahNya, sholat, zakat, beribadah dan berakhlakulkarimah, serta perintah lainnya juga menjauhi larangan-larangan Allah SWT.

Menjalankan ibadah tersebut termasuk dalam dimensi kesalihan individu, hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta (hablum mina-Allah). Sedangkan kesalihan sosial (hablum mina-annas) adalah ibadah sosial yang dilaksanakan yang berdampak positif memberi manfaat pada diri sendiri dan lingkungan misalnya hubungan baik dengan manusia, teman, saudara, tetangga dan lingkungan sekitarnya. Kepedulian sosial kita saat ini benar-benar sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang membutuhkan saat kondisi Covid-19 begini. Biar pandemi Corona ini segera berakhir mari kita ikuti anjuran dan aturan dari pemerintah dan MUI. Wallahu a’lam bishshowab. (*)
Ditulis oleh Drs. H. Muhdi, M.Ag
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved