Mutiara Ramadan

W. Yunarto: Berlaku Adil kepada Keluarga dan Tetangga

Allah memiliki sifat Al Adl yaitu Yang Maha Adil. Karenanya Allah suka kepada orang yang berbuat adil

tribunjateng/ist
Ditulis oleh W. Yunarto Humas Pengadilan Agama Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Allah memiliki sifat Al Adl yaitu Yang Maha Adil. Karenanya Allah suka kepada orang yang berbuat adil dan mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk selalu berbuat adil, walaupun terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain yang berinteraksi dengannya, yang tinggal bersama dalam rumah tangganya ataupun lingkungan sekitarnya.
Allah berfirman dalam Alquran Surat an-Nisa [4]:135: "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebenar-benarnya penegak keadilan, menjadi saksi-saksi karena Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri atau kedua orangtua kalian dan kerabat kalian".

Secara etimologis, “al-adl” bermakna al-istiwa (keadaan lurus). Kata ini semakna dengan jujur, adil, seimbang, sama, sesuai, sederhana, dan moderat. Kata yang semakna dengan ini, yaitu al-qisthu dan al-mizan.
Menurut sosiolog Islam Ibnu Khaldun, adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Maksudnya memenuhi hak-hak orang yang berhak dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan fungsi dan peranannya dalam masyarakat. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan, kata adil diartikan dengan tidak memihak atau tidak berat sebelah. Adil juga diartikan dengan sikap berpihak kepada kebenaran atau perbuatan yang tidak sewenang-wenang.

Begitu pentingnya bersikap adil dan menegakkan keadilan, karena berbagai konflik sosial, dari lingkup kecil seperti keluarga, sampai lingkup besar seperti bangsa dan negara bermuara pada tidak adanya keadilan. Dan sebaliknya, kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran didapatkan ketika tegak keadilan.

Berbuat adil kepada keluarga

Islam mengajarkan, bahwa antara suami istri ada hak dan kewajiban berimbang dan berkorelasi secara timbal balik. Allah SWT berfirman: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan lebih dari istrinya (kewajiban nafkah). (QS Al Baqarah:228)

Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga. Suami istri mempunyai kewajiban untuk saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya, dan istri wajib mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya. (UU No.1 Tahun 1974 pasal 31-34).

Berbuat adil kepada keluarga berarti berbuat baik dengan jalan memberikan hak-hak anggota keluarga sebagaimana mestinya. Rasulullah SAW telah berwasiat agar para suami berbuat baik kepada istrinya: “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang yang terbaik dari kalian terhadap keluarga”. (HR.Thabrani).

Demikian pula ketika orang tua memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya, memenuhi kebutuhan mereka dengan sebaik-baiknya, berarti orang tua telah berbuat adil kepada anak-anaknya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kadang orang tua menyayangi sebagian anaknya lebih dari sebagian yang lain. Tidak masalah jika hal itu hanya sebatas perasaan sayang dalam hati, karena menyamaratakan semua anak dalam membagi kasih sayang adalah sesuatu yang sulit, bahkan di luar kuasa manusia. Namun dalam perkara pemberian/hibah, Islam menggariskan bahwa orang tua harus berbuat adil. Jika salah satu diberi, yang lain juga harus diberi bagian yang sama. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut. (HR. al-Baihaqi).

Perlu diketahui bahwa hibah tidak sama dengan nafkah. Jika dalam hibah kepada anak orang tua diwajibkan adil, tidak demikian dalam nafkah. Orang tua boleh memberikan nafkah sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Biaya sekolah anak SD tentunya tidak bisa disamakan dengan kakaknya yang sudah kuliah. Begitu pula biaya makan, pengobatan, menikahkan anak, dan kebutuhan-kebutuhan semisal tidak harus sama rata, karena hal itu termasuk nafkah, bukan hibah.

Berlaku adil terhadap tetangga

Berlaku adil terhadap tetangga adalah berbuat baik kepada mereka, tanpa membeda-bedakan agama dan status sosial mereka. Allah SWT memerintahkan agar kita memenuhi hak Allah sebagai Tuhan dan perintah itu paralel dengan kewajiban kita untuk menunaikan hak lingkungan sosial (tetangga) kita, sebagaimana firman-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS An-Nisa; 36)

Dalam sebuah hadits Nabi SAW mengaitkan berbuat baik terhadap tetangga dengan keimanan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia memuliakan tetangganya”. (HR Abu Dawud). Artinya, semakin baik sikap seseorang terhadap tetangganya berarti semakin baik kualitas imannya, dan sebaliknya, semakin buruk sikap dan perbuatan seseorang dengan tetangganya menandakan betapa buruk kualitas imannya.

Lalu apa yang menjadi hak para tetangga itu? Barangkali hadits berikut ini cukup untuk menjelaskan apa saja yang menjadi hak tetangga kita:
Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian tahu hak tetangga? Jika tetanggamu meminta bantuan kepadamu, engkau harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau meminjaminya. Jika dia fakir, engkau memberinya. Jika dia sakit, engkau menjenguknya. Jika dia meninggal, engkau mengantar jenazahnya. Jika dia mendapat kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa kesulitan, engkau menghiburnya. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, hingga engkau menghalangi angin yang menghembus untuknya, kecuali atas izinnya. Jika engkau membeli buah, hadiahkanlah sebagian untuknya. Jika tidak melakukannya, maka simpanlah buah itu secara sembunyi-sembunyi. Janganlah anakmu membawa buah itu agar anaknya menjadi marah. Janganlah engkau menyakitinya dengan suara wajanmu kecuali engkau menciduk sebagian isi wajan itu untuknya. Apakah kalian tahu hak tetangga? Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidaklah hak tetangga sampai kecuali sedikit dari orang yang dirahmati Allah,” (HR At-Thabarani).

Berbuat baik, berlaku adil terhadap tetangga tersebut tidak membedakan apakah tetangga tersebut muslim atau nonmuslim. Dalam sebuah riwayat diceritakan, setiap sahabat Abdullah bin Amru menyembelih kambing maka ia akan berkata kepada anaknya, “Apakah sudah kau berikan sebagian untuk tetanggaku yang Yahudi? Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah berkata, Jibril selalu mewasiatkan kepadaku (agar berbuat baik) kepada tetangga, sampai aku menyangka ia ingin memberi sebuah warisan kepadanya (HR. Abu Daud)
Dalam hadits lainnya riwayat Imam Bukhari, ketika Rasulullah mendapati anak tetangganya yang Yahudi sakit, beliau menjenguk anak tersebut untuk memenuhi haknya sebagai tetangga. Dalam riwayat lain, bahkan Rasulullah juga menjenguk pengemis Yahudi buta yang selalu menjelek-jelekkannya, padahal si Yahudi tidak menyadari bahwa selama ini yang menyuapinya makanan adalah Rasulullah sendiri. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW sehingga Islam benar-benar dirasakan sebagai rahmatan lil ‘alamin. (*)
Ditulis oleh W. Yunarto
Humas Pengadilan Agama Kota Semarang

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved