Breaking News:

OPINI

OPINI Dr Nugroho Trisnu Brata : Tradisi Lebaran Telah Berubah

Tradisi berlebaran bagi masyarakat Indonesia seakan sudah mendarah daging dan identik dengan budaya masyarakat baik muslim maupun non muslim.

Editor: Catur waskito Edy
bram
Nugroho Trisnu Brata 

Oleh Dr Nugroho Trisnu Brata,M.Hum.

Dosen Antropologi di UNNES & Alumni Program Sandwich S3 Like di Universiteit Leiden Belanda.

Tradisi berlebaran bagi masyarakat Indonesia seakan sudah mendarah daging dan identik dengan budaya masyarakat baik muslim maupun non muslim. Berlebaran dengan mudik ke kampung halaman untuk mengunjungi dan bersilaturahmi dengan kerabat atau ziarah ke makam leluhur setelah berakhirnya bulan puasa seakan menjadi “ibadah” wajib.

Namun di era pandemik covid 19 (corona virus desease 2019) di tahun 2020 ini terjadi fenomena baru terkait budaya mudik lebaran. Jika diperhatikan maka ada fenomena pergeseran tradisi silaturahmi di musim lebaran tahun ini.

Pertama, yang paling radikal yaitu dari berkunjung secara fisik bergeser ke berkunjung secara maya/virtual lewat media sosial, karena mencegah penyebaran covid 19. Bagi yang belum biasa berlebaran dengan media sosial tentu berat jika tidak bertemu secara fisik, tidak bisa bersalaman, tidak bisa sungkem, tidak bisa berpelukan, akan tetapi bagi yang sudah biasa ya tidak ada masalah.

Kedua, muncul fenomena baru bersilaturahmi secara masal seperti e-reuni, e-silaturahim, open house lebaran on line, ataue-halal bil halal sebagai ekor atau ikutan dari fenomena Work from Home/ WfH.

Di sini terdapat gegar budaya atau cultural shock baik pada masyarakat yang biasa sowan kepada para senior, atasan dalam pekerjaan, atau tokoh masyarakat. Begitu juga ada kegetiran pada tokoh-tokoh yang biasa disowani/didatangi oleh masyarakat. Para tokoh ini merasa hampa, tidak dihormati, tidak dibutuhkan, atau tidak diperhatikan. Dan bagi yang biasa sowan maka tidak ada event bagi-bagi uang lembaran baru.

Ke-tiga, pesan bertulis yang dahulu dengan gaya berpantun baik dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dengan memasukkan aspek humor, saat ini dianggap usang dan kuno. Tren sekarang berganti menjadi gambar foto keluarga inti/nuclear family yang dihiasi ucapan selamat idul fitri dengan singkat, lugas, dan to the point. Contohnya, “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, atau “Mohon maaf lahir dan batin”.

Jika meminjam terminologi surface structure dan deep structure dari antropolog Claude Levi’Strauss maka gambar foto keluarga inti dan kalimat-kalimat berpantun itu adalah bentuk dari surface structure yaitu kebudayaan bagian luar atau bagian kulit yang sifatnya mudah berubah. Sedangkan tiga frase di muka yang relatif tidak berubah adalah wujud dari terminilogi deep structure yaitu inti kebudayaan atau core culture yang cenderung sulit berubah. Deep structure ini biasanya kita kenal dalam istilah values (nilai-nilai), pranata sosial dan norma,

Fenomena lebaran tahun ini juga tidak diwarnai oleh ritual kemacetan di jalan tol atau jalan raya seperti tahun-tahun sebelumnya. Juga tidak ada kecelakaan lalu lintas dengan korban yang massif dan tidak ada hiruk pikuk distribusi BBM untuk memenuhi kebutuhan kendaraan para pemudik.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved