Breaking News:

Unissula Semarang

Romantisme Anak dan Orangtua di Masa Karantina

Adanya pandemi virus corona memberi banyak perubahan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kehidupan orang tua dan anak.

IST
Arum Meiranny, S. SiT., M. Keb. Dosen Prodi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan FK Unissula Semarang. 

Oleh: Arum Meiranny, S. SiT., M. Keb.

Dosen Prodi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan FK Unissula Semarang

ADANYA pandemi virus Corona COVID-19 memberi banyak perubahan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kehidupan orang tua dan anak. Kondisi psikis orang tua dan anak pun rentan terganggu oleh situasi yang serba tak menentu.

Sesuai anjuran pemerintah, kita harus melakukan karantina dan aktivitas kita banyak dilakukan di rumah. WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) membuat interaksi dalam keluarga semakin tinggi. Orang tua diwajibkan untuk bekerja dan anak-anak diharuskan belajar dari rumah, tidak dapat bermain dan bertemu dengan teman-teman. Hal tersebut bertujuan untuk memutus rantai penularan infeksi COVID-19.

Permasalahan utama dari kedua kegiatan tersebut adalah pelaksanaannya dilaksanakan secara bersama-sama di dalam satu rumah. Hal tersebut merupakan suatu perubahan kedua aktivitas secara mendadak pada satu waktu dan satu tempat bersamaan, sehingga dapat memicu permasalahan tersendiri, baik secara sosial maupun psikis. Keluarga hendaknya mampu memberikan dukungan baik secara fisik maupun psikis, baik dukungan orang tua pada anak atas perubahan proses belajar-mengajar (peran orang tua yang harus bisa menjadi guru di rumah) atas SFH maupun dukungan anak pada orang tua dalam menyelesaikan pekerjaannya dari rumah (kemandirian anak selama dirumah) atas WFH.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melalui Forum Anak Nasional (FAN) menyatakan bahwa bahwa 58% anak tidak menyukai kegiatan belajar dari rumah. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan konsep psikologi pendidikan bahwa salah factor yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi efektivitas belajar siswa adalah faktor sosial (peran guru dan kehadiran orang tua). Selanjutnya, factor psikis (motivasi yang mendorong anak untuk tetap belajar) saat berada di kondisi atau lingkungan yang berbeda dengan kesehariannya.

Anak-anak yang dikarantina selama pandemik memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan stres akut, gangguan adaptasi dan kesedihan. Anak-anak memiliki dampak dramatis dari pandemik COVID-19. Mereka mengalami ketakutan, ketidakpastian, karantina fisik dan sosial serta tidak berangkat sekolah dalam jangka waktu yang lama, sehingga orang tua perlu memahami reaksi dan emosi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dengan benar.

Ketidakharmonisan hubungan antara orang tua dan anak sangat mempengaruhi kondisi mental anak. Anak akan menjadi lebih regresif atau mungkin lebih pasif. Peran orang tua sangat penting di masa karantina ini. Orang tua harus mampu memanajemen stress dan mengelola emosinya dengan baik. Bagi orang tua yang harus melakukan bekerja dari rumah (WFH), harus dapat membagi waktunya sebaik mungkin, antara pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, dan mendidik anak. Hal tersebut memang tidak mudah, dikarenakan sifat anak-anak yang unpredictable.

Komunikasi yang baik merupakan kunci membuat interaksi dalam keluarga menjadi nyaman dan penuh dengan atmosfer positif, sehingga mampu membantu menguatkan ketangguhan dan mengoptimalkan kesehatan mental keluarga. Kebutuhan untuk mengoptimalkan komunikasi yang efektif pun semakin dirasakan ketika keluarga berada dalam situasi krisis, seperti di masa pandemi ini. Adanya komunikasi yang efektif diharapkan dapat menciptakan kedekatan antara orang tua dan anak.

Kita seharusnya mampu mengambil hikmah besar dari adanya masa pandemic ini. Orang tua dikembalikan lagi fitrahnya sebagai pioneer pendidik utama bagi anak-anaknya. Sesuai pernyataan pidato Intisari dari Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2020 untuk mengambil hikmah dari pandemi covid-19 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, yang menyatakan bahwa " Guru, siswa, dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja. Tetapi, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi.”

Kini saatnya orang tua menjadi superhero dalam menyelamatkan masa depan anak. Adanya kolaborasi yang baik antara ayah dan bunda dapat menciptakan romantisme hubungan antara orang tua dan anak, sehingga anak-anak “Angkatan corona” ini bisa memiliki slogan “Rumahku adalah Keluargaku, dan Keluargaku adalah Sekolahku”. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved