Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Emak-emak Gelar Arisan: Selamat Datang New Normal

“Mete ne ta singkirke, ngko sore arep ana arisan,” teriakan mertua menggelegar ketika tahu menantunya ini celingukan mencari toples

Tayang:
Penulis: galih permadi | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Oleh Galih Permadi

Wartawan Tribun Jateng

 “Mete ne ta singkirke, ngko sore arep ana arisan,” teriakan mertua menggelegar ketika tahu menantunya ini celingukan mencari toples isi kacang mete sisa lebaran di ruang tamu. Kaget, ya tentu saja.

Mertua yang dikenal disiplin menerapkan protokol kesehatan agar keluarga tidak tertular corona, akhirnya mau menjadi tuan rumah arisan. Padahal sebelumnya,hampir sebulan lebih ruang gerak keluarga dibatasi agar tidak keluar rumah jika tak ada kepentingan mendesak, selalu cuci tangan, dan mengenakan masker.

Apalagi beberapa waktu lalu jumlah pasien positif corona di Kabupaten Purworejo sempat tertinggi di Jawa Tengah, mertua tak bosan-bosannya mengingatkan protokol kesehatan.

Ya, tampaknya masyarakat siap kembali ke kehidupan normal setelah “jenuh” dikekang selama sebulan lebih.

Kesiapan warga untuk hidup kembali hidup normal juga terlihat dengan berakhirnya posko covid. Juga, dibongkarnya portal bambu yang menutup akses jalan.

Beberapa masjid juga sudah menyelenggarakan salat Jumat. Seperti di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, Kabupaten Banyumas, menggelar salat jumat perdana setelah ditutup lebih dari dua bulan akibat pandemi Corona. Penyelenggaraannya pun dengan protokol kesehatan yang ketat.

Saf jemaah dibuat jarak sekitar satu meter. Sebelum masuk area masjid, jemaah diwajibkan cuci tangan, dicek suhu tubuh dan menunjukkan identitas diri. Anak-anak dan lansia di atas 65 tahun tidak diperbolehkan mengikuti ibadah karena termasuk kelompok rentan.

Sejumlah jemaah terpaksa tidak dapat mengikuti ibadah shalat jumat di masjid agung. Pasalnya pengurus masjid membatasi jumlah jemaah hanya sekitar 150 orang.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Menurutnya, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah bisa menyesuaikan dengan pola hidup. "Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktifitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah," ujarnya.

Sampai kapan? Masyarakat akan menjalani kehidupan secara new normal sampai ditemukannya vaksin dan bisa digunakan sebagai penangkal virus corona. "Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai tertemukannya vaksin untuk Covid-19," imbuhnya.

Menurut saya, new normal merupakan tingkatan paling sulit masyarakat dalam berdampingan dengan virus corona hingga nanti ditemukannya obat corona. Ibarat dalam tingkatan level game, masyarakat sudah melalui level easy dan normal. Di masa New Normal, masyarakat justru memasuki level hard.

Dalam konsep New Normal yang dipaparkan Wiku, masyarakat akan kembali bertemu banyak orang dengan masih menerapkan protokol kesehatan. Tentu saja sulit membedakan mana orang yang bervirus corona atau tidak. Apalagi perilaku warga +62 yang dikenal menyepelekan dan kurang disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Tinggal siapa yang kuat, yang akan bertahan. Selamat datang new normal.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved