Ngopi Pagi
FOKUS : Belajar dari Sukarno
Bulan Juni di Indonesia dibuka dengan Hari Lahir Pancasila. Bicara soal Dasar Negara Pancasila, salah satu tokoh yang akan langsung terlinta
Penulis: galih permadi | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Galih Pujo Asmoro
Wartawan Tribun Jateng
Bulan Juni di Indonesia dibuka dengan Hari Lahir Pancasila. Bicara soal Dasar Negara Pancasila, salah satu tokoh yang akan langsung terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah Sukarno. Proklamator yang juga presiden pertama republik ini merupakan orang yang membidani lahirnya Pancasila.
Dalam pidato pada 5 Juli 1958 di Istana Negara, Sukarno mengatakan jika Pancasila adalah dasar yang bisa dipijak berbagai aliran, suku-suku, agama-agama, dan lain sebagainya di Indonesia. Dan setidaknya hingga saat ini, Pancasila berhasil menjadi pemersatu bangsa Indonesia dengan segala keberagamannya.
Selain Pancasila Sukarno juga lekat dengan berbagai prestasi yang membuat Indonesia dan dirinya kian dikenal dunia. Sebut saja pohon mindi di Padang Arafah, Arab Saudi di mana masyarakat sana menyebutnya sebagai Pohon Sukarno. Demikian juga dengan keistimewaan orang Indonesia saat berziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan ataupun ruas jalan di beberapa negara yang mengabadikannya sebagai nama jalan.
Putra Sang Fajar hingga saat ini masih jadi idola sebagian besar masyarakat Indonesia. Juni dan Sukarno juga punya hubungan erat. Selain soal Pancasila pada 1 Juni, Sukarno juga lahir bulan keenam penanggalan tahun masehi itu. Tepatnya pada tanggal 6 Juni 1901. Ia pun meninggal pada bulan kelahirannya, yakni 21 Juni 1970.
Bicara Sukarno bagi bangsa Indonesia tidak ada habisnya. Mulai dari perjuangannya, kisah cinta, hingga kontroversi tentangnya. Namun apapun itu, Sukarno telah memberi sumbangsih besar pada negara ini. Bung Karno juga seorang pemimpin yang tidak bisa jauh dari rakyatnya.
Pada penuturannya pada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno mengatakan jika ia sering kali keluyuran di jalan tanpa dikenal orang. Hanya bersama ajudan, ia menanggalkan seragam dan peci hitam ciri khasnya dan menggantinya dengan kemeja serta kacamata.
"Aku dapat keluyuruan di jalan tanpa dikenal orang dan itu memang sering kulakukan. Penyebabnya karena aku ingin melihat kehidupan. Aku milik rakyat. Aku harus melihat mereka dan bersentuhan dengan mereka. Bagiku mereka adalah roti kehidupan. Aku membutuhkan massa rakyat. Aku mendengarkan percakapan mereka. Aku mendengarkan penjelasan-penjelasan, gurauan-gurauan, dan cerita-cerita mereka. Dan aku merasakan kekuatan hidup mengalir ke seluruh tubuhku,” demikian dikatakan Bung Karno.
Sukarno juga sadar sepenuhnya jika dirinya bukan apa-apa tanpa rakyatnya. “Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat, dan aku penyambung lidah rakyat,” ucap Sukarno di buku yang sama.
Bagi seorang pemimpin, dalam hal ini Sukarno, dipisahkan dengan rakyatnya adalah sama halnya dengan memisahkan diri dari kehidupan. Rakyat adalah sumber kekuatan pemimpin dan merekalah “roti kehidupan” bagi para pemimpin.
Tentu di zaman modern seperti sekarang ini, mungkin sudah tidak usum lagi seorang pemimpin meniru Sukarno sepenuhnya dengan menyamar “keluyuran” di jalan. Esensi dari semua adalah bagaimana seorang pemimpin bisa mendengar keluhan rakyatnya. Ia turun langsung ke bawah untuk mengetahui hasil kebijakan-kebijakan yang diterapkannya. Apakah itu berbuah baik, disambut antusias, atau sebaliknya.
Juni adalah Bulan Sukarno. Meski tentunya tidak semua hal tentang ataupun kebijakan Sukarno bisa diterima semua orang saat ini, namun manfaat yang bisa dipetik darinya, dalam pandangan pribadi saya, jauh lebih besar dibanding mudaratnya. Jas Merah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-pujo-asmoro_20170706_072750.jpg)