Breaking News:

OPINI

OPINI Ferdinand Hindiarto : Kembali ke Sekolah, Beranikah?

Pemerintah masih ragu untuk mengambil keputusan terkait aktivitas sekolah pada tahun ajaran ini.

Editor: Catur waskito Edy
Bram Kusuma
Ferdinand Hindiarto 

Oleh Ferdinand Hindiarto

Doktor Ilmu Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Fak. Psikologi Unika Soegijapranata Semarang

Pemerintah masih ragu untuk mengambil keputusan terkait aktivitas sekolah pada tahun ajaran ini. Sinyal yang muncul, aktivitas pembelajaran di sekolah baru akan dilakukan di akhir tahun ini.

Hingga saat ini masih berlaku Surat Edaran Mendikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Mendikbud sudah menyiapkan beberapa skenario, namun keputusan akhir akan diambil berdasarkan rekomendasi satgas percepatan penanganan covid-19. Tentu hal ini sangat dapat dipahami.

Dalam kerangka menyusun tulisan ini, penulis melakukan survei kecil terhadap 50 orangtua yang memiliki anak SD dan SMP tentang apakah orangtua setuju atau tidak setuju jika aktivitas pembelajaran di sekolah diaktifkan kembali dengan protokol kesehatan yang ketat.

Responnya 97 % menyatakan tidak setuju jika aktivitas pembelajaran di sekolah diaktifkan kembali pada tahun akademik ini. Alasannya hampir sama, kecemasan jika anaknya terpapar covid saat berada di sekolah meskipun sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Kehati-hatian Kemendikbud sangat dapat dipahami. Demikian juga dengan kekhawatiran orang tua. Tulisan ini mencoba memberikan perspektif yang berbeda.

Penulis berpendapat bahwa seyogyanya pembelajaran di sekolah dapat dilakukan kembali pada tahun akademik ini. Tentu saja harus dibarengi dengan kedisiplinan dalam berbagai hal sesuai dengan tatanan normal baru yang telah ditetapkan. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pilihan itu, sebagai berikut:

Pertama, jika pembelajaran dilakukan secara daring sampai akhir tahun, maka akan muncul berbagai dampak yang kurang sehat, baik bagi siswa maupun guru. Sebelum adanya wabah ini pun, sudah banyak keluhan orangtua yang anaknya kecanduan gadget. Pew Research Centre (2015) melaporkan bahwa 92% remaja selalu online setiap hari dan orang tua kesulitan untuk memonitornya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved