Breaking News:

OPINI

OPINI Paulus Mujiran : Kesiapan Sekolah Membuka Kembali Pembelajaran

Wacana pembukaan sekolah mengemuka seiring rencana pemerintah menerapkan “New Normal” atau keadaan normal baru

Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng
Paulus Mujiran 

Oleh Paulus Mujiran

Pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Wacana pembukaan sekolah mengemuka seiring rencana pemerintah menerapkan “New Normal” atau keadaan normal baru sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Sesuai arahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai pada 13 Juli 2020 mendatang. Meski pemerintah belum mengambil keputusan terkait rencana pembukaan itu tak pelak polemik pro kontra antara mendukung dan menolak terlanjur gaduh.

Tak bisa disangkal terdapat perasaan mendua di kalangan orang tua, siswa terkait pembelajaran tatap muka. Di satu sisi, secara psikologis setelah sekian lama belajar di rumah sebagai dampak pembatasan sosial ada kebutuhan dan kerinduan di kalangan siswa untuk bertemu teman, bersosialisasi di sekolah. Secanggih apapun teknologi komunikasi yang mendukung pembelajaran di rumah, perjumpaan langsung di dunia nyata lebih menciptakan suasana hangat dan menenangkan perasaan hati.

Apalagi konsep belajar terlanjur dibentuk harus selalu dilakukan di sekolah bersama teman-teman seusia. Pada konteks ini ada kekhawatiran pula dari orang tua terlalu lama tinggal di rumah anak ketinggalan pelajaran karena model pembelajaran jarak jauh tentu secara materi tidak sekuat ketika pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Anak-anak yang terlalu lama di rumah dan berpisah lama dengan teman-temannya dikhawatirkan kehilangan motivasi belajar pada saatnya masuk sekolah nanti. Bagaimanapun prestasi didapat dari motivasi dari teman-teman di sekolah.

Lagipula pembelajaran di rumah sangat tergantung dari inisiatif guru. Kalau gurunya kreatif menerapkan aneka model pembelajaran maka siswanya pasti mendapat lebih banyak pengetahuan. Namun kendala sarana seperti ketidaktersediaan paket data internet, keterbatasan ponsel canggih plus guru yang malas membuat pembelajaran di rumah tidak selalu berjalan mulus. Orang tua pasti jengah menyaksikan anaknya hanya makan, tidur bermain ponsel di rumah. Dan pasti mengkhawatirkan prestasi anak-anaknya.

Di sisi lain penularan Covid-19 masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Angka penularan masih saja terjadi dengan jumlah yang terus naik. Maka wajar manakala orang tua belum rela melepas anaknya kembali ke sekolah. Kekhawatiran orang tua sangat masuk akal meski protokol kesehatan diterapkan secara ketat di sekolah namun transportasi yang dipergunakan, pergaulan antar teman, bahkan karena lama tidak bertemu lantas melepas masker bahkan bertukar makanan dan alat makan dari rumah.

Kekhawatiran terjadinya penularan terhadap anak sangatlah beralasan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat ada 129 anak meninggal dengan status PDP dan 14 anak meninggal dengan status terkonfirmasi positif, sementara anak yang positif dan masih dirawat sebanyak 800 anak. Sementara data Kementerian Kesehatan hingga 30 Mei 2020 terdapat 1.851 anak usia kurang dari 18 tahun terpapar Covid-19. Kasus tertinggi di DKI Jakarta 333 kasus, Jawa Timur 306 kasus, Sumatera Selatan 181 kasus, Sulawesi Selatan 151 kasus, Jawa Tengah 100 kasus dan Nusa Tenggara Barat 84 kasus (Kompas 4/6).

Dengan 29 kasus kematian. Data RS Online Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan mencatat data senada jumlah kematian pada anak yang tercatat dengan status orang dalam pemantauan (ODP dan pasien dalam pengawasan (PDP) juga tinggi. Kasus kematian anak dengan status ODP per 22 Mei 2020 terdapat 41 anak, dan status PDP 383 anak. Artinya anak berada dalam kelompok resiko tinggi untuk ditulari dan menulari. Tingginya resiko terbentuk kluster baru penularan di sekolah tentu saja mencemaskan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved