Ngopi Pagi

FOKUS : Berlatih Dewasa di Tempat Wisata

Pemerintah Kota Semarang memperpanjang pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) hingga 8 Juli mendatang.

Bram Kusuma
Galih Pujo 

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Pemerintah Kota Semarang memperpanjang pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) hingga 8 Juli mendatang. Pada kebijakan terbaru itu, Pemkot memberi kelonggaran di sektor wisata dan hiburan untuk kembali beroperasi. Syaratnya, harus menerapkan protokol kesehatan ketat dan mengantongi rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwasata (Disbudpar) Kota Semarang.

Tidak hanya di Kota Semarang, objek wisata di Indonesia lainnya juga bakal kembali beroperasi. Pemerintah akan membuka sejumlah kawasan pariwisata alam di zona hijau dan kuning secara bertahap. Lantaran objek wisata itu dibuka di tengah pandemi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 meminta pengelola kawasan wisata menggunakan pembatas atau partisi pada loket tiket serta customer service.

Selain itu, pengelola juga diminta rutin melakukan disinfektasi, melakukan pengecekan suhu tubuh di pintu masuk, serta menyediakan fasilitas mencuci tangan dengan sabun. Pengumuman agar pengunjung menggunakan masker, menjaga jarak, serta rajin mencuci tangan, diminta agar ditampilkan di seluruh lokasi wisata. Dalam hal menjaga jarak dalam antrean, pengelola diminta memberi penanda di lantai minimal satu meter.

Saat pembelian tiket misalnya, Pengelola disarankan menerapkan sistem online atau membuka pendaftaran terlebih dahulu agar tak ada kerumunan di pintu masuk. Pemerintah telah membatasi kapasitas pengunjung sebanyak 50 persen dari jumlah pengunjung normal. Pengelola kawasan juga diharapkan membatasi penggunaan fasilitas yang dapat menciptakan kerumunan.

Dibukanya kembali objek wisata adalah latihan bagi semua orang, khususnya pengunjung di lokasi tersebut. Mereka harus bisa "bersikap dewasa" untuk mencegah penyebaran Covid-19 kian meluas. Virus corona hingga saat ini masih terus menghinggapi orang baru. Buktinya, kemarin ada 1.051 temuan baru Covid-19 di Indonesia. Secara akumulatif, 47.896 orang terjangkit Covid-19.

Bagi sebagian orang, selalu menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun sesering mungkin, menjaga jarak, dan lainnya bisa jadi bikin mereka kurang nyaman. Terlebih hal itu dilakukan di tempat wisata di mana kita selama ini terbiasa menggandeng tangan pasangan ataupun bercengkrama denga keluarga lainnya.

Perlu ada ketegasan yang dilakukan secara konsisten untuk memastikan protokol kesehatan benar-benar diterapkan. Baik itu di objek wisata, maupun area publik lainnya. Misalnya, sanksi sosial ataupun denda yang bakal bikin masyarakat tidak berani melanggar aturan protokol kesehatan. Bukankah hukum itu sifatnya mengikat dan memaksa? Jika sudah tidak bisa dinasihati baik-baik, jalan selanjutnya tentu harus dipaksa.

Ketegasan pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam hal ini tidak bisa disalahkan. Superman dengan ketajaman mata supernya hanya ada di film. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa melihat virus corona dengan mata telanjang. Artinya, kita tidak akan pernah tahu jika ada orang terinfeksi Covid-19 hanya dengan berhadap-hadapan.

Oleh karena itulah, karena kita sudah tahu dengan cara pencegahannya, sudah jadi kewajiban semua untuk melakukannya. Jangan sampai karena menganggap daya tahan tubuh kita kuat, kita mengesampingkan protokol kesehatan dan mengambil risiko tertular lalu orang lain di sekitar kita ikut terdampak.

Meskipun dengan berbagai persayaratannya, beroperasinya kembali objek wisata adalah “latihan paling tepat” saat ini. Bukan hanya bagi pengunjung saja, namun juga untuk pengelola. Jangan sampai pengelola wisata membiarkan siapapun mengesampingkan protokol kesehatan di tempat usahanya karena “gersang” yang dialaminya tiga bulan terakhir. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved