Berita Semarang

Dinsos Kota Semarang Bentuk Tim Unit Reaksi Cepat Tangani PGOT, Maksimal 2 Jam Harus Tertangani

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang membentuk tim unit reaksi cepat untuk menangani pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI
Kasi Tuna Sosial dan Perdagangan Orang (TSPO), Anggie Ardhitia 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang membentuk tim unit reaksi cepat untuk menangani pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) yang ada di Kota Semarang.

Kasi Tuna Sosial dan Perdagangan Orang (TSPO) Dinas Sosial, Anggie Ardhitia menuturkan, sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang banyak permasalahan sosial, satu diantaranya masih adanya PGOT yang mana tidak hanya berasal dari dalam kota melainkan berdatangan dari luar Kota Semarang. Hal ini menjadi perhatian Dinas Sosial.

"Karena itu, kami membenruk tim unit reaksi cepat untuk menangani PGOT. Tim ini melayani laporan 24 jam," terang Anggie, Kamis (2/7/2020).

Ibu Rumah Tangga di Solo Positif Corona, Riwayat Pergi ke Yogyakarta Naik Mobil Cuma Mampir Makan

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, 1 Keluarga Tewas Kecelakaan Tabrak Mobil, NMax dan Uang Terbakar

Tokoh Tukang Ojek Pengkolan Tisna dan Yuli Disetop! Ini Penjelasan Aris Nugraha Sutradara TOP

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Hendro Tewas Kecelakaan Tabrak Mobil Warga Purworejo Saat Menyalip

Anggie menjelaskan, tim unit reaksi cepat ini ada di masing-masing kecamatan.

Sehingga, apabila terdapat laporan adanya PGOT, mereka akan langsung bergerak.

Pelapor tidak harus datang ke kantor Dinsos untuk melaporkan adanya PGOT. Masyarakat bisa melapor melalui kanal media sosial atau memanfaatkan lapor hendi.

"Begitu ada laporan, maksimal dua jam harus tertangani," tegasnya.

Kedepan, pihaknya juga berencana membangun rumag singgah yang dapat menampung PGOT pasalnya, selama ini rumah singgah milik Pemkot Semarang yakni Among Jiwo tidak dapat menampung seluruh PGOT yang terjaring.

Dengan membangun rumah singgah, diharapkan Kota Semarang tidak bergantung lagi dengan panti milik Provinsi Jawa Tengah.

"Ini baru tahap diskusi. Selama ini kami cukup kerepotan karena panti kewenangannya ada di pemerintah provinsi.

Sedangkan Among Jiwo kapasitasnya saat ini sudah dalam taraf maksimal," jelasnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Muthohar menambahkan, PGOT memang masih menjadi persoalan di Kota Semarang. Kota yang dijuluki Lumpia ini memang menjadi magnet bagi masyarakat di luar Kota Semarang.

"Mereka berpikir mencari rezeki di kota ini mudah. Mereka datang tidak memiliki keterampilan akhrinya dengan cara minta-minta," ujar Muthohar.

Dia berharap, dengan tim reaksi cepat ini bisa mengatasi persoalan yang selama ini masih saja terjadi. (eyf)

3 Anggota TNI Ditangkap Terkait Pembunuhan Serda Saputra di Kamar Hotel Jakarta, BB Pistol dan Badik

TRAGIS! Janda Muda Diperkosa 7 Pria Ditemukan Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Anak 6 Tahun

Firasat Bupati Banyumas Tak Enak saat Suruh Semua Orang di Tempat Ini Keluar, Ternyata . . .

Wajah Pria Bertato Naga Berusaha Culik 8 Remaja Hendak Ikuti Turnamen Game Online, Ini Kronologinya

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved