Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS : Mencari Djoko Tjandra

Terpidana kasus hak tagih Bank Bali yang telah buron sejak 2009 Djoko Sugiarto Tjandra ternyata bebas berkeliaran di Indonesia. Ini menjadi tamparan k

tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Oleh Erwin Ardian

Wartawan Tribun Jateng

Terpidana kasus hak tagih Bank Bali yang telah buron sejak 2009 Djoko Sugiarto Tjandra ternyata bebas berkeliaran di Indonesia. Ini menjadi tamparan keras buat para penegak hukum negeri ini.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, segera memerintahkan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menangkap Djoko Tjandra. Sebenarnya perintah itu tak perlu diberikan, karena tanpa diperintah pun, sudah menjadi kewajiban penegak hukum mengeksekusi terpidana.

Namun dalam kasus Djoko Tjandra, perintah itu mungkin dirasa perlu. Menurut Jaksa Agung sendiri, Djoko Tjandra, sudah berada di Indonesia sejak tiga bulan lalu. Mendapatkan informasi seperti itu, Jaksa Agung mengaku sakit hati.

Sakit hati tentu tak hanya milik Jaksa Agung. Hati rakyat yang menyaksikan peristiwa ini lebih sakit. Di tengah tingginya biaya operasional semua lembaga hukum di negeri ini, sudah 11 tahun sebuah negara dibuat tak berdaya oleh seorang Djoko Tjandra.

Bagaimana mungkin buron kasus besar seperti ini bisa luput dari radar intelijen kita. Sekadar mengingatkan, kasus yang menjerat Djoko bukanlah kasus gurem. Djoko yang saat itu menjabat sebagai Direktur PT EGP terlibat dalam korupsi kasus pengalihan hak tagih Bank Bali.

Kasus bermula saat Bank Bali kesulitan menagih piutang dengan nilai total Rp3 triliun yang tertanam di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Tiara pada 1997.

Dari Rp 905 miliar yang digelontorkan Bank Indonesia dan BPPN, PT EGP menerima Rp 546 miliar. Sedangkan Bank Bali hanya kebagian Rp 359 miliar. Uang yang diterima EGP inilah yang kemudian jadi masalah.

Setyo Novanto (mantan Ketua DPR RI) yang saat itu sebagai Direksi PT EGP ikut terseret. di mana di sana juga ada nama Setya Novanto dalam jajaran direksinya. Nama besar lainnya adalah Syahril Sabirin (mantan Gubernur BI), dan Pande N Lubis (mantan Wakil Kepala BPPN).

Setelah melarikan diri ke luar negeri, Djoko Tjandra dikabarkan selama ini ada di Malaysia dan Singapura. Kisah bebasnya Djoko Tjandra ini seolah mengorek kembali luka lama potret buruknya penegakan hukum di negeri ini.

Belum kering luka akibat tuntutan terlalu ringan hanya satu tahun yang dilayangkan jaksa kepada dua terdakwa penyerang Penyidik KPK Novel Baswedan, muncul kasus Djoko Tjandra.

Publik tentu masih ingat saat terpidana kasus korupsi Gayus Tambunan dengan tenangnya bisa menyaksikan pertandingan tenis internasional di Bali. Padahal saat itu Gayus harusnya ada di dalam sel penjara.

Kalau hal seperti ini terus terjadi, tingkat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di negeri ini akan terus menipis. Lalu apa gunanya, para penegak hukum berbusa-busa di persidangan, bermandi keringat saat melakukan penyidikan kalau akhirnya terpidana bisa bebas berkeliaran tanpa menjalani hukuman? Semoga perintah Menkopolhukam untuk segera menangkap Djoko Tjandra ada hasilnya. (*)

Sering Dibilang Jutek, Iis Dahlia: Kadang kan Kita Butuh Gimmick

Ratusan Penonton Rhoma Irama di Bogor Akan Jalani Rapid Test hingga Tes Swab

Dibully Rekan Satu Grup, Mina AOA Nyaris Bunuh Diri, Siapa Sosok Unnie?

Harga Vaksin Virus Corona Diperkirakan Sekitar Rp 75.000 Per Orang

Penulis: erwin adrian
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved