Breaking News:

OPINI

Opini Elisa Rinihapsari : Urban Farming: Tren atau Kebutuhan?

Urban farming menjadi satu istilah yang banyak mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai seminar dan pelatihan online

Editor: Catur waskito Edy
Bram Kusuma
Elisa Rinihapsari 

Oleh Elisa Rinihapsari, M.Si.Med

Kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata,Staf Pengajar di Politeknik Katolik Mangunwijaya

Urban farming menjadi satu istilah yang banyak mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai seminar dan pelatihan online maupun offline menjamur di mana-mana. Bibit tanaman sayuran dan buah dalam pot laris manis, out of stock di toko pertanian maupun supermarket. Banyak orang mulai aktif bertanam di halaman rumah masing-masing. Gejala apakah ini? Sekedar ikut-ikutan agar kelihatan cinta lingkungan, atau sebenarnya merupakan kebutuhan dasar yang sudah saatnya diperhatikan?

Urban farming atau pertanian kota, adalah konsep mengubah lahan yang terbatas di perkotaan (pekarangan, balkon, atap, dinding, bahkan area di dalam rumah) menjadi tempat berkebun yang produktif. Umumnya, yang ditanam adalah sayuran, buah-buahan, umbi-umbian ataupun tanaman rempah aromatik yang bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari, namun tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan budidaya peternakan yang tidak membutuhkan lahan besar, seperti ikan atau ayam.

Ada begitu banyak metode yang tersedia untuk digunakan bagi yang ingin memulai urban farming, namun semua memiliki tujuan yang jelas, yaitu berkebun di rumah sendiri dengan memanfaatkan sarana apapun yang dimiliki. Urban farming umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri; namun mulai banyak yang membagikannya ke sekitar karena produksinya yang berlebihan. Dan bahkan tidak sedikit yang mulai melakukannya untuk alasan komersial.

Urban farming dan Ketahanan Pangan

Situasi pandemi menyadarkan kita, bahwa pemenuhan kebutuhan manusia ternyata sangat tergantung pada jalur distribusi. Ketakukan untuk keluar rumah, membuat banyak orang mengalami kesulitan mendapatkan akses pada produk-produk makanan, khususnya sayur-sayuran segar. Pembatasan jalur transportasi antarkota atau antarnegara, ternyata juga berperan besar dalam sulitnya memperoleh beberapa bahan makanan segar. Sempat terjadi kelangkaan beberapa jenis buah-buahan yang merupakan produk impor. 

Urban farming nampaknya dapat menjadi solusi dari permasalahan transportasi dan distribusi hasil pertanian. Jika setiap rumah tangga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri akan sayur-sayuran dan produk segar lainnya, maka kita tidak terlalu tergantung pada petani yang nun jauh di sana, pun tak perlu tergantung pada panjangnya rantai distribusi, yang kadang berakibat pada tingginya harga produk di pasaran. Keluarga dan komunitas yang dapat memproduksi tanaman pangan sendiri, lebih terjamin dan mandiri dalam penyediaan sumber bahan pangan untuk kehidupannya sehari-hari.

Urban farming dan Kelestarian Lingkungan

Tanaman diketahui memiliki kemampuan menyerap karbondioksida di lingkungan, yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku fotosintesis, dengan produknya berupa oksigen dan karbohidrat. Urban farming berperan besar menyerap cemaran karbondioksida, sekaligus menyediakan suplai oksigendi udara. Akibatnya, semakin besar area yang ditumbuhi tanaman di perkotaan, akan semakin besar kemungkinan terciptanyaudara perkotaan yang lebih bersih dan segar. Konsep urban farming dengan menerapkan zero waste agriculturejuga dapat dipilih, sebagai salah satu solusi dari terus meningkatnya produksi sampah organik rumah tangga yang tidak terolah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved