Breaking News:

Berita Regional

Tim Advokasi Penyidik KPK Novel Baswedan Laporkan Irjen Rudy Heriyanto ke Propam Polri, Ada Apa?

Irjen Rudy Heriyanto selaku mantan Direktur Reserse Kriminal Umum dilaporkan ke Divisi Propam Polri, Selasa (7/7/2020) oleh Tim Advokasi Novel Basweda

Tribunnews
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/6/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Irjen Rudy Heriyanto selaku mantan Direktur Reserse Kriminal Umum dilaporkan ke Divisi Propam Polri, Selasa (7/7/2020) oleh Tim Advokasi Novel Baswedan.

Menurut anggota Tim Advokasi Novel, Kurnia Ramadhana mengatakan, Rudy dilaporkan atas dugaan pelanggaran kode etik karena menghilangkan barang bukti kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

"Tim Advokasi Novel Baswedan pada hari ini melaporkan Irjen Rudy Heriyanto ke Divisi Propam Polri atas dugaan pelanggaran kode etik profesi," kata Kurnia dalam siaran pers, Selasa (7/7/20200.

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Raisa Ditemukan Tewas di Sekitar Kebun Jagung, Ini Kata AKP Sugeng

Aku Kerja Apa? Kata Kekeyi Menangis Setelah Akun Instagramnya Hilang, Susah Payah 2 Tahun Bangun IG

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Pandu dan Susi Tewas Kecelakaan Ditabrak Truk Molen dari Belakang

Ini Harga dan Spesifikasi Masker Viral yang Dipakai Hetty Istri KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa

Kurnia menyampaikan, Rudy yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum Polri itu sempat ikut menangani kasus penyerangan Novel saat menjabat sebagai Direskrimum Polda Metro Jaya.

Menurut dia, Rudy harus bertanggung jawab atas segala persoalan yang muncul dalam proses penyidikan kasus penyerangan Novel tersebut.

"Termasuk dalam hal ini adalah dugaan penghilangan barang bukti yang terkesan sengaja dilakukan untuk menutupi fakta sebenarnya," ujar Kurnia.

Kurnia menyebut, ada empat hal yang menjadi landasan Tim Advokasi Novel melaporkan Rudy ke Divisi Propam Polri.

Pertama, hilangnya sidik jari pelaku pada botol dan gelas yang digunakan sebagai alat penyerangan serta botol dan gelas tersebut tidak dijadikan barang bukti dalam prnamganan perkara.

Kedua, rekaman CCTV di sekitar rumah Novel yang tidak dijadikan barang bukti. Padahal, rekaman CCTV itu diyakini dapat menggambarkan rute pelarian pelaku.

Ketiga, cell tower dumps (CTD) tidak pernah dimunculkan dalam setiap tahapan penanganan perkara.

Halaman
12
Editor: galih permadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved