Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS : Kabar Sekolah di Tahun Ajaran Baru

APA kabar sekolah hari ini? Senin (13/7) kemarin, siswa-siswi, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK/MA memulai tahun ajaran baru

tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh Moh Anhar

Wartawan Tribun Jateng

APA kabar sekolah hari ini? Senin (13/7) kemarin, siswa-siswi, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK/MA memulai tahun ajaran baru. Berbeda suasana dengan tahun-tahun sebelumnya.

Hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru biasanya diwarnai keramaian siswa-siswi yang mengikuti orientasi pengenalan lingkungan sekolah. Kini, kita tak bisa memandang wajah dengan senyum ceria anak-anak berbaris mengenakan seragam sekolah mereka.

Kesempatan bertatap muka secara langsung antara guru-murid ataupun antarmurid sangat terbatas. Pemerintah hanya mengizinkan sekolah untuk menghadirkan murid yang berada di zona aman dari pandemi virus corona. Selebihnya, semua dilakukan secara daring (online).

Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah berlangsung tiga bulan sejak Maret 2020 lalu, akan dilanjutkan lagi. Pandemi corona dinilai masih mengancam bila kerumunan massa, termasuk di sekolah, tidak dilakukan antisipasi. Terlebih usia anak, yang dikhawatirkan mereka akan ceroboh terhadap protokoler kesehatan.

MPLS di Kota Semarang dilakukan pada sekolah yang ditunjukan dinas pendidikan setempat. Protokoler kesehatan diterapkan sesuai anjuran WHO dan Kemenkes RI: mengenakan masker, cuci tangan dengan sabun dengan penyediaan fasilitas wastafel, pengecekan suhu tubuh, penyemprotan disinfektan, dan jaga jarak. Penerapan MPLS juga dilaksanakan dengan waktu yang singkat yakni maksimal dua jam.

Di beberapa kota lain, MPLS dilaksanakan dengan suasana serupa. Sebagian menerapkan sistem shift atau bergilir bagi siswa yang berangkat.

Sekolah-sekolah harus menjalankan protokol kesehatan, meski berada di zona hijau Covid-19 sekalipun. Angka pertambahan kasus covid-19 bisa dikendalikan jika masyarakat dan semua pihak menjalankan protokol kesehatan secara baik.

Beberapa waktu lalu, kita dicengangkan adanya berita mengenai 1.280 orang di Secapa AD, Bandung terkonfirmasi positif covid-19. Ini menunjukkan, sekolah bisa berpotensi menjadi klaster covid-19. Sudirman Said, Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) pun mengingatkan, sepanjang masih ada kemunculan kasus di manapun itu artinya risiko terbuka bagi penularan virus.

Satu sisi, pembelajaran jarak jauh ini memacu nilai positif, yakni menuntut anak mandiri dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan pendidikan mereka sendiri. Simpelnya, anak harus tahu kapan harus mengikuti materi secara online, menggarap tugas dan menyelesaikannya dengan waktu yang sudah ditentukan.

Kita mafhum, godaan terbesar anak saat ini adalah gadget untuk berselancar di media sosial dan game. Waktu mereka saat ini banyak dipakai untuk bermain menggunakan gadget. Terlebih pembelajaran jarak jauh ini membuat waktu anak secara penuh berada di rumah. Sementara, tak sedikit orangtua yang bekerja di luar rumah. Karenanya, keberhasilan pendidikan jarak jauh ini ditopang kemandirian dan tanggung jawab siswa dan pendampingan orangtua.

Tentu saja ini, masih ada faktor penunjang keberhasilan lainnya, yaitu, inovasi guru mengajar. Bagaimana caranya materi pelajaran bisa tersampaikan secara baik dan mudah diserap pula oleh siswa. Lebih-lebih ada nilai plusnya, yakni guru bisa berinovasi dalam mengajar.

Adaptasi pembelajaran seperti ini diharapkan bisa berdampak positif bagi dunia pendidikan, yaitu anak-anak bisa lebih akrab dengan teknologi untuk keperluan pendidikan. Meski diakui, secara umum, kita sebenarnya masih mengalami kekurangan, yaitu belum meratanya akses kepemilikan fasilitas teknologi internet di masyarakat. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved