Breaking News:

Berita Salatiga

Jangan Unggah Foto Anak di Medsos! Satreskrim Polres Salatiga: Rentan Digunakan Penipuan

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Salatiga mendukung kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Salatiga yang melarang orangtua mengunggah

IST
Ilustrasi Penipuan 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Salatiga mendukung kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Salatiga yang melarang orangtua mengunggah foto anak ke media sosial.

Kasatreskrim Polres Salatiga AKP Akhwan Nadhirin mengatakan selain anak rawan menjadi korban perundungan atau pedofilia yang paling marak ialah kasus penipuan.

"Diantara kasus kriminal yang bermoduskan hasil olah data digital dengan foto atau identitas anak adalah bentuknya penipuan.

Karena itu para orangtua saya minta waspada," terangnya saat dihubungi Tribunjateng.com, Jumat (17/7/2020)

Menurut AKP Akhwan, momentum tahun pelajaran baru 2020/2021 dimana terdapat anak didik baru yang pertama kali masuk sekolah belum ada laporan penyalahgunaan data anak ke Polres Salatiga.

Ia menambahkan, meski demikian para orangtua diharapkan dapat menyikapi secara bijak himbauan Disdik Kota Salatiga.

Secara kelembagaan Polres Salatiga juga mendukung kebijakan tersebut.

"Soal data anak ini kita harus waspada jangan sampai data dan foto kita di medsos bisa bocor dan di pakai orang lain untuk melakukan perbuatan pidana," katanya

Dikatakannya, selain berpotensi pada upaya penculikan anak, bullying, pedofilia umumnya berdasarkan catatan kepolisian yang paling rawan adalah tindak pidana penipuan.

Bentuknya lanjut dia, meminta sejumlah uang dengan nominal tertentu dan sebagainya.

Pihaknya menyatakan, dalam kasus tersebut diakui petugas juga mengalami kesulitan untuk melakukan pengungkapan karena datanya tidak valid dan seringkali berubah-ubah.

"Meski sampai sejauh ini di Salatiga belum ada, alangkah baiknya untuk menghindari hal yang tidak di inginkan agar masyarakat lebih hati-hati menggunakan foto profil, atau uploud foto anak," ujarnya

Dia menjelaskan terhadap pelaku pencurian data di internet baik melalui sarana media sosial atau lainnya dapat dijerat dengan undang-undang ITE.

Ditambah, undang-undang perlindungan anak hukuman penjara maksimal lima tahun. (ris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved