Breaking News:

OPINI

OPINI Thio Hok Lay : Pendidikan yang Memartabatkan

RAHASIA agar aktivitas belajar dan proses pendidikan berlangsung secara efektif adalah dengan menghormati sang murid

Editor: Catur waskito Edy
surya
Ilustrasi- 

Oleh Thio Hok Lay, S.Si

Teaching Learning Curriculum – Yayasan Citra Berkat, Jakarta

RAHASIA agar aktivitas belajar dan proses pendidikan berlangsung secara efektif adalah dengan menghormati sang murid sebagai sosok pribadi yang unik; lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Pastikan setiap apresiasi positif dan peneguhan yang dialamatkan guru kepada murid, memang karena dijumpai adanya proses pertumbuhan dan perkembangan secara personal; dan bukan sebagai hasil membandingkan kualitas satu pribadi dengan pribadi lainnya.

Shihab (2017) dalam bukunya berjudul “Semua Murid Semua Guru” menuliskan bahwa tujuan jangka panjang dari pendidikan adalah “kemenangan dari diri sendiri.” Kemenangan atas diri yang dimaksud adalah usaha untuk terus mencapai target lebih baik dari titik sebelumnya, yang dilakukan secara konsisten, selama sepanjang hayat. Dengan demikian, sekiranya dalam proses pendampingan belajar dijumpai adanya keterbatasan dalam diri sang murid, maka usahlah guru tergesa-gesa dalam memberikan penilaian, apalagi menghakimi.

Sejarah mencatat, tak sedikit tokoh kelas dunia yang dulunya sempat keliru terdiagnosa oleh gurunya. Thomas Edison, pernah dipulangkan ke rumah dengan sebuah catatan oleh gurunya yang mengatakan bahwa ia terlalu bodoh (baca: lambat untuk belajar) dan tidak punya harapan. Louis Pasteur juga sempat mendapat predikat stempel dari guru kimianya bahwa ia merupakan siswa yang lambat belajar. Pun, sama halnya dengan Winston Churchill yang sempat dikeluarkan dari kelas bahasa Latin karena dianggap lambat dalam belajar.

Selanjutnya, sebagaimana kita tahu bersama, hanya karena bahasa kasih dan ekstra kesabaran dari para orangtua yang memainkan perannya sebagai pendidik pertama dan utama secara optimal, yang menjadi para murid tersebut tumbuhkembang menjadi tokoh dan pemimpin kelas dunia di kemudian hari.

Dari contoh tersebut, para insan pendidikan kiranya boleh belajar bahwa sejogyanya melalui kejumbuhan dalam komunikasi dan interaksi yang ramah dan bersahabat, maupun lewat pola pendekatan saling asah, asih, dan asuh yang dikembangkan oleh sang guru, diharapkan para guru dimampukan untuk mengenali setiap kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh setiap pribadi murid secara personal. Guna selanjutnya, terpetakan dan nantinya terfasilitasi agar setiap potensi siswa dapat tumbuhkembang secara optimal.

Penulis melalui artikelnya yang berjudul “Proses Belajar yang Menyenangkan dan Mencerdaskan” (Wawasan, 18 Desember 2017) menyatakan bahwa setiap bentuk “kekeliruan” dan “kenakalan” yang dilakukan dan dijumpai selama proses belajar, sejogyanya ditempatkan dan dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi dalam rangka menemukan dan menumbuhkembangkan setiap potensi dan keunikan personal yang dimiliki murid.

Bukankah tujuan akhir dari proses mengajar dan mendidik murid adalah untuk nantinya bisa membuatnya maju tanpa gurunya? Jika memang demikian halnya, maka perlu diingat bahwa nantinya kesuksesan perjalanan masa depan hidup dari para peserta didik akan lebih ditentukan oleh potensi dan kualitas dirinya, dan bukan oleh guru dan asal sekolahnya.

Setiap pertanyaan dan problematika terkait hakekat dari pendidikan harus diulas secara jujur, terbuka dan tuntas. Sekiranya tidak demikian, maka proses pendidikan hanyalah akan berlangsung penuh dengan kepura-puraan; kering dan tanpa makna, tak lagi mampu memberikan sumbangsih pemikiran secara konkrit atas problematika kehidupan. Kondisi atas ketidakbermaknaan dalam proses belajar semacam inilah, yang menurut Willingham (2009) dalam bukunya “Why don’t students like school?”, yang menyebabkan siswa enggan untuk datang dan belajar di sekolah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved