Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS : Koruptor Pun Menang (Lagi)

DRAMA panjang kasus penganiayaan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akhirnya tuntas dengan antiklimaks.

Penulis: Erwin Ardian | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Oleh Erwin Ardian

Wartawan Tribun Jateng

DRAMA panjang kasus penganiayaan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akhirnya tuntas dengan antiklimaks. Dua pelaku penyiraman air keras, divonis ringan, 1,5 tahun dan 2 tahun penjara.

Hakim Ketua Djuyamto menjatuhkan vonis terhadap dua anggota polisi Rahmat Kadir Mahulette dan Roni Bugis masing-masing dua tahun dan satu tahun enam bulan. Kedua terdakwa dinilai terbukti menganiaya penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi.

Hakim menilai Rahmat Kadir terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan terencana kepada Novel dan terbukti melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Pada saat Rahmat melakukan penyerangan, Ronny Bugis yang membantu dengan mengendarai sepeda motor.

Melalui akun Twitter pribadinya, Novel menegaskan proses pengungkapan hingga persidangan kasus yang menimpanya hanyalah rekayasa. "Sandiwara telah selesai sesuai dengan skenarionya. Point pembelajarannya adl Indonesia benar-benar berbahaya bagi orang yang berantas korupsi. Selamat bapak Presiden @jokowi, Anda berhasil membuat pelaku kejahatan tetap bersembunyi, berkeliaran & siap melakukannya lagi!” tulis Novel Baswedan

Meski hukuman itu lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulete, pidana penjara selama satu tahun, vonis dua dan satu setengah tahun penjara untuk penganiaya penyidik lembaga korupsi tentu menimbulkan kontroversi.

Tak hanya soal penyerangan terhadap aparat lembaga hukum, kasus ini juga menarik perhatian publik, karena dinilai sebagai ‘perang’ antara lembaga anti korupsi dan koruptor itu sendiri. Setelah tuntutan ‘hanya’ setahun membuktikan bahwa koruptor masih perkasa, vonis hakim menegaskan hal sama.

Kenapa? Terlepas dari rasa hormat kepada proses hukum, secara kasat mata, tuntutan dan vonis terhadap pelaku penyerangan penyidik KPK ini jauh dari rasa keadilan. Jika dibandingkan dengan kasus penyerangan dengan air keras lainnya, hukuman dua tahun terasa sangat ringan.

Padahal dampak dari peristiwa penyerangan terhadap penyidik KPK ini jauh lebih besar. Penyerangan terhadap Novel adalah simbol perlawanan koruptor. Sosok Novel sendiri tak bisa lepas dari profesinya sebagai penyidik KPK.

Melihat hasil yang ada sekarang, justru yang terjadi bukanlah hukum yang memenuhi rasa keadilan masyarakat, namun pembuktian bahwa negara ini masih dikuasai oleh mafia koruptor. Pesan yang tersampaikan adalah: Nah begini yang terjadi kalau kalian berani macam-macam dengan kami (koruptor). Kalau sudah begini, siapa yang mau membantu dan membela kalian? Masih mau berlindung di balik hukum? Buktinya penyidik KPK saja berhasil Kami buat tak berdaya, dan tak ada yang bisa dilakukan.”

Tak berlebihan rasanya ketika Novel menumpahkan kekecewaannya, dengan menyebut nama Presiden. Kini, setelah kemenangan kelompok koruptor untuk kesekian kalinya terjadi, kita akan lihat bagaimana langkah penegakan hukum selanjutnya. Akankah masih ada penegak hukum yang berani menjalankan tugasnya? Atau mereka akan tiarap mencari selamat. (*)

 Hasil MotoGP Sirkuit Jerez Spanyol, Rossi Gagal Finish, Marquez Terbanting, Quartararo Pecah Telur

Nonton TV Online Ini Link Live Streaming Serie A Liga Italia AS Roma Vs Inter Milan di RCTI Plus

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Calon Pengantin Ini Tewas Ditusuk Tetangga, Pelaku Hobi Cari Ribut

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Fahmi Dokter Semarang Meninggal Karena Corona dalam Usia 30 Tahun

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved