Ngopi Pagi

FOKUS : Belajar Menahan Rindu

SELAMA pandemi Covid-19 ini makin mudah ditemukan anak-anak punk di perempatan lampu merah. Mereka berpakaian lengkap dengan aksesoris kenormalan

Penulis: iswidodo | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

SELAMA pandemi Covid-19 ini makin mudah ditemukan anak-anak punk di perempatan lampu merah. Mereka berpakaian lengkap dengan aksesoris kenormalan yang mereka banggakan, meski pemandangan itu sebenarnya 'kurang normal'.

Sebagian pengendara ada yang khawatir atau ngeri jika didekati. Tapi tidak sedikit yang tetap memberi receh sebagai wujud kasih sayang dan perhatian, jika tidak mau dibahasakan kasihan. Meski tindakan memberikan receh kepada peminta-minta di perempatan jalan telah dilarang oleh pemerintah.

Membicarakan anak punk memang kompleks masalahnya. Cara penanganan juga tidak mudah karena diperlakukan secara normal justru mereka merasa nggak normal. Mereka punya "budaya" kenormalan sendiri. Senang dan bangga bisa numpang di bak truk atau pikap berpindah dari kota ke kota lainnya.

Makin bangga bila punya banyak "teman" sealiran dan dianggapnya sebagai bawahannya. Itu kepuasan tersendiri. Bagaimanapun mereka juga anak-anak Indonesia yang juga menjadi kewajiban negara untuk melindunginya.

Kalau hanya sekadar mengamen, minta-minta di perempatan, nggembel di pinggir jalan, numpang truk dan pikap itu belum seberapa. Di sejumlah daerah, ada anak-anak yang sudah berbuat kriminal bahkan melakukan perampasan dan pembunuhan terhadap korban.

Anak bawah usia 17 tahun, secara psikologi kejiwaan dan fisik belum dewasa. Tapi tindakan kriminalnya ada yang melebihi penjahat dewasa. Seperti di Pekalongan kemarin terungkap, remaja sejoli masih bawah umur menjadi tersangka pembunuhan. Berdasar penyidikan yang masih dilakukan, terungkap bahwa motif dua remaja ini adalah ingin memiliki kendaraan.

Sehingga pendek pikir, mereka merebut dan merampas sepeda motor temannya kemudian lanjut menghilangkan jejak dengan menghabisi nyawa korban. Lebih dari itu, mayat korban kemudian dibuang.

Tiada rasa belas kasihan terhadap teman, yang penting mendapat barang yang diinginkan.

Selain kesadisan di atas, ada juga aksi pelajar tawuran. Meski kegiatan belajar mengajar diselenggarakan secara daring (dalam jaringan) namun masih ada saja sejumlah pelajar yang bergerombol dan bermusuhan. Beruntung polisi bertindak cepat untuk menggagalkan tawuran pelajar. Mereka diberikan pembinaan, push-up dan menghafal sila-sila Pancasila.

Besok tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Bukan perayaan mewah meriah yang diharapkan. Melainkan meningkatkan kesadaran keluarga, para orangtua untuk melindungi anak-anaknya. Anak-anak adalah aset bangsa, penerus masa depan dan keberlangsungan Indonesia dalam bernegara.

Saat ini jumlah anak mencapai 79 juta atau sekitar 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut data Satgas ada sekitar 8% atau lebih dari 7.000 anak dinyatakan positif Covid-19. Bahkan disebutkan tiap hari ada 100 anak tertular virus corona. Padahal pemerintah sudah menyiasati dengan studi jarak jauh atau daring, untuk mencegah penularan covid-19.

Meski belajar secara daring dinilai belum maksimal, tapi apa daya, langkah itu demi keselamatan. Anak-anak sudah rindu belajar di sekolah, bertemu teman sebaya dan bergurau bermain. Suasana bahagia itu meningkatkan imun tubuh dan kecerdasan. Tapi entah sampai kapan mereka belajar di rumah sambil menahan rindu. Toh, protokol kesehatan ini juga demi melindungi anak-anak Indonesia. (*)

Hasil Liga Italia Tadi Malam Juventus Vs Lazio, Dua Gol Ronaldo Bikin Lazio Melongo

Hasil Liga Inggris Tadi Malam Sheffield United Vs Everton, Gol Richarlison Kandaskan Mimpi Sheffield

Sudah Dandan Rapi Mau Foto Prewedding, Rio Malah Dikeroyok hingga Tewas

Kadang Kami Main Bertiga, Pengakuan Pria yang Jual Istri ke Pria Hidung Belang

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved