Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Puisi

Puisi Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran

Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran Wahai langit tanyakan pada-nya mengapa dia menciptakan sekeping hati ini…

Penulis: Awaliyah P | Editor: abduh imanulhaq
YOUTUBE
Kahlil Gibran 

Puisi Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran

TRIBUNJATENG.COM - Berikut puisi Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran:

Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran

Wahai langit
tanyakan pada-nya
mengapa dia menciptakan sekeping hati ini…
begitu rapuh dan mudah terluka…

saat di hadapkan dengan duri-duri cinta
begitu kuat dan kokoh
saat berselimut cinta dan asa…

mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
di dalam hati ini…
mengisi kekosonga di dalamnya
menyisahkan kegelisahan akan sosok sang kekasih

menimbulkan segudang tanya
menghinpun berjuta asa
menberikan semangat…

juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa

kegelisahan dalam relung jiwa
meghepit banyangan
menyesakkan dada…
tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…
wahai ilalang…
pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini…

mengapa kau hanya diam
katakan padaku
sebuah kata yang bisa merendam gejolak hati ini…
sesuatu yang dirasakan raga ini…
sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali

desirangan angin membuat berisik dirimu
seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
aku tak tahu apa maksudmu
hanya menduga… bisikanmu

mengatakan ada seseorang di balik bukit sana..
menunggu dengan setia…
menghargai apa arti cinta…

hati yang terjatuh dan terluka
merobek malam menoreh seribu duka
kukepakkan sayap-sayap patahku
mengikuti hembusan angin yang berlalu

menancapkan rindu…
disudut hati yang beku…
dia retak, hancur bagai serpihan cermin

berserakan …
sebelum hilang di terpa angin…
sambil tertunduk lemah…
ku coba kembali mengais sisa hati
bercampur baur dengan debu

ingin kurengkuh…

ku gapai kepingan di sudut hati…
hanya banyangan yang kudapat..
ia menghilang saat mentari turun dari peraduanya

tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini
ia telah patah…

tertusuk duri duri yang tajam…
hanya bisa meratap…
meringis…
mencoba mengapai sebuah pengangan…

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved