Breaking News:

Berita KIT Batang

Kemenperin Target Pembangunan Tahap Awal KIT Batang Selesai 6 Bulan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kesiapan sejumlah kawasan industri yang akan dijadikan lokasi menampung sejumlah pabrikan multinasio

Istimewa
Bupati Batang Wihaji bersama Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Doddy Widodo bersama para investor mengunjungi KIT Batang di Desa Ketanggan, Gringsing, Jumat (24/7/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kesiapan sejumlah kawasan industri yang akan dijadikan lokasi menampung sejumlah pabrikan multinasional yang ingin relokasi ke Indonesia.

Diperlukan area terintegrasi agar aktivitas industri bisa berjalan efisien, sehingga bisa menjadi daya tarik bagi para investor, dengan satu di antaranya yang sedang diakselerasi pembangunannya adalah Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang.

"Ini sebagai tindak lanjut dari hasil kunjungan Bapak Presiden Joko Widodo pada akhir Juni lalu," kata Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Dody Widodo, dalam keterangan resmi, Minggu (26/7).

Pada Jumat (24/7) lalu, Dirjen KPAII kembali meninjau progres pembangunan KIT Batang. "Kami menyampaikan bahwa pemerintah ingin pembangunan 450 hektare dari total lahan 4.300 hektare bisa selesai dalam kurun waktu 6 bulan," ungkapnya.

Dari segi infrastruktur, Dody menuturkan, KIT Kabupaten Batang memiliki banyak kelebihan dan daya tarik untuk menjawab keluhan investor.

"Biasanya keluhan utama dari investor yakni tentang harga lahan yang bergejolak tinggi setelah ditetapkan menjadi kawasan industri. Tetapi, harga lahan dan fasilitas di KIT Batang mampu bersaing dengan kawasan industri di negara lain seperti China," paparnya.

Ia menyampaikan, Kemenperin mendukung pengembangan KIT Batang dengan konsep The Smart and Sustainable Industrial Estate. Artinya, KIT Batang nantinya dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti perumahan pekerja, unit pendidikan, layanan kesehatan, dan ketersediaan rantai pasok antara sektor industri.

"Sekitar 108-2.027 hektare akan dibangun (fasilitas-Red) sampai 2024, tidak hanya sebagai daya tarik, tapi menjadi supply chain di koridor Pantura Jawa, tuturnya.

KIT Batang ditargetkan untuk menjadi kawasan industri percontohan kerja sama antara pemerintah dan BUMN, dengan konsep infrastruktur dasar dan pendukung disediakan oleh pemerintah.
Infrastruktur itu meliputi akses jalan untuk tol dan non-tol, penyediaan air baku dan air bersih, kereta api, listrik, gas, terminal kontainer darat (dry port) dan pelabuhan.

Selain itu, KIT Batang akan dikembangkan sesuai klaster industri, bukan berdasarkan asal negara.

Selanjutnya, KIT Batang didorong mengalokasikan minimal 5 persen dari luas lahan untuk klaster UMKM. Hal itu sesuai dengan asas efektifitas dan efisiensi ekonomi untuk memudahkan penyediaan fasilitas pendukung.

Rencananya, ada tujuh perusahaan global yang berkomitmen menanamkan modal di KIT Batang dengan nilai 850 juta dollar AS, atau sekitar Rp 11,9 triliun, dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 30.000 orang.

Ketujuh perusahaan tersebut akan merelokasi bisnisnya dari China, Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan. (Kontan/Agung Hidayat)

Nama Sapardi Djoko Damono Disebut dalam Malam Tadarus Puisi Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto

PPP Bidik Kemenangan Besar di Pantura Jateng

Alumni Akpol 91 Bagikan 1.000 Paket Sembako Bagi Warga Terdampak Covid-19 di Juwangi Boyolali

Harapan Stimulus The Fed dan Vaksin Potensial Topang Rupiah

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved