Breaking News:

Berita Jateng

Harus Tahu, Sembelih Hewan Kurban Betina Produktif Bisa Dipenjara 3 Tahun

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melarang penyembelihan hewan kurban ternak ruminansia betina produktif untuk kurban Iduladha 1440 Hijriah.

TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
ILUSTRASI Penyembelihan hewan kurban 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melarang penyembelihan hewan kurban ternak ruminansia betina produktif untuk kurban Iduladha 1440 Hijriah.

Ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing) betina produktif adalah ternak yang organ reproduksinya masih berfungsi secara normal dan dapat beranak.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jawa Tengah, Lalu M Syafriadi, menyatakan dalam momen Iduladha biasanya permintaan hewan untuk kurban meningkat.

Kisah Pengakuan PSK Online Semarang: Dari Ayam Kampus hingga Jadi Karyawati, Kini Coba Jualan Baju

PKS Incar Purnomo untuk Tantang Gibran di Pilkada Solo, Tidak Menolak Tapi Belum Mengiyakan

Jokowi Telepon Donald Trump, Amerika Serikat Langsung Kirim 1.000 Ventilator ke Indonesia

Viral Lamaran di Batang, Bawa Mobil dan Isi Rumah

"Kondisi ini memungkinkan ternak betina produktif juga dijadikan kurban. Ini yang perlu diperhatikan masyarakat. Tidak boleh kurban betina produktif," jelas Lalu, Selasa (28/7/2020).

Warga lebih memilih ternak betina juga lantaran jenis hewan kurban ini relatif lebih murah.

Larangan itu disesuaikan dengan ketentuan Pasal 18 ayat 4 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Setiap orang yang melanggar larangan ini dipidana penjara paling singkat setahun dan paling lama tiga tahun dan denda minimal Rp 100 juta dan maksimal Rp 300 juta. Sanksi pidana ini ditentukan dalam Pasal 86 huruf b undang-undang yang sama.

Larangan tidak berlaku jika kurban yang disembelih tidak termasuk produktif.

"Tidak produktif itu yakni ternak berumur lebih dari 8 tahun atau beranak lebih dari 5 kali. Lalu, tidak produktif (majir) dinyatakan oleh dokter hewan," terangnya.

Selain itu, kata dia, menyembelih hewan kurban betina produktif juga sudah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Untuk memastikan larangan itu dipatuhi, petugas dari Disnakkeswan membentuk tim khusus gabungan bersama Persatuan Dokter Hewan Indonesia untuk memeriksa kondisi kesehatan hewan yang dijual.

Pemeriksaan secara acak sudah dilakukan beberapa pekan terakhir ini di sejumlah pasar hewan.

"Sejauh ini belum ditemukan kasus hewan betina produktif dijual. Kami tidak temukan hewan kurban yang sakit, atau pun antraks. Hewan kurban di Jateng aman," tandasnya.(mam)

KPU Ingatkan PPDP Kabupaten Semarang Tetap Patuhi Protokol Kesehatan Selama Coklit

Anggota Dewan Pertimbangan PSHT Sukoharjo Penuhi Panggilan Ditreskrimsus Polda Jateng

Ini Alasan Plt Bupati Kudus Belum Izinkan Belajar Tatap Muka

UPDATE : Ini Identitas 9 Korban Luka-luka Tabrakan Bus Penumpang di Pati

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved