Breaking News:

Berita Salatiga

Kenang Gugurnya Pahlawan Nasional Adi Sucipto, Komunitas Sejarah Salatiga Gelar Tabur Bunga

Dalam rangka mengenang jasa pahlawan nasional asal Kota Salatiga Adi Sucipto sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Sejarah Salatiga

TRIBUN JATENG/M NAFIUL HARIS
Anggota Komunitas Sejarah Salatiga (KSS) saat menggelar kegiatan mengenang gugurnya pahlawan nasional Adi Sucipto di Lapangan Pancasila Salatiga, Rabu (29/7/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Dalam rangka mengenang jasa pahlawan nasional asal Kota Salatiga Adi Sucipto sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Sejarah Salatiga (KSS) melakukan tabur bunga di Lapangan Pancasila, Rabu (29/7/2020).

Koordinator acara Rachmad Wahjoe mengatakan pada 29 Juli 1947 sebelum dikenang sebagai Hari Bhakti TNI
Angkatan Udara (AU) tercatat peristiwa bersejarah dimana kemudian mengakibatkan Marsekal Muda Agustinus Adi Sucipto gugur.

"Nah, peristiwa itu tidak banyak diketahui masyarakat. Maka pada momentum ini kami ingin mengenalkan kalau Salatiga memiliki pahlawan nasional yakni Adi Sucipto. Karenanya beliau tidak dimakamkan disini, guna mengenang jasanya kami tabur bunga simbolis di replika patungnya," terangnya kepada Tribunjateng.com, di Lapangan Pancasila, Rabu (29/7/2020)

Menurut Rachmad, 29 Juli 1947 Angkatan Udara Republik Indonesia melancarkan operasi udara yang menargetkan markas Belanda di tiga kota yaitu Kota Semarang, Kota Salatiga dan Ambarawa.

Ia menambahkan, operasi tersebut dilakukan dalam Perang Revolusi Kemerdekaan yang dilatarbelakangi oleh Perjanjian Linggarjati yang diingkari Belanda.

"Dari berbagai sumber, Perjanjian Linggarjati adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang membahas tentang status kemerdekaan Indonesia. Nah, saat itu sedang terjadi perang berkecamuk dan Adi Sucipto bertugas membawa bantuan obat dari luar negeri untuk dibawa ke Yogjakarta, tetapi begitu mendarat pesawatnya dibom Belanda," katanya

Dikatakannya, atas peristiwa bersejarah tersebut masyarakat Salatiga perlu mengingat dan merasa bangga serta mau belajar dari perjuangan para pendahulunya.

Pihaknya menyatakan, kegiatan tabur bunga diakui dilakukan secara spontan tanpa persiapan untuk mengumpulkan massa karena masih dalam masa adaptasi baru pandemi virus Corona (Covid-19).

"Acara kami buat sederhana, kami batasi maksimal 15 orang. Kami ajak komunitas musik Salatiga untuk bersama berdoa menyanyikan lagu 'Ibu Pertiwi' dan 'Gugur Bunga' sebagai bentuk penghormatan," ujarnya

Tambahan informasi, dalam peristiwa 29 Juli 1947 tersebut selain menimbulkan korban jiwa, serangan-serangan dari Belanda membuat Indonesia kehilangan banyak lapangan udara beserta pesawat-pesawat yang dimilikinya. (ris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved