Breaking News:

Kain Batik Indonesia

Irma Wujudkan Impian Produk Batiknya Melanglang Buana

Kain tradisional batik banyak digemari pembeli dari mancanegara. Irma Susanti membuktikan produk batik tulis karyanya telah menyebar di penjuru dunia.

Tribun Jateng/ Hermawan Handaka
Irma Susanti (kiri), pemilik batik tulis Identix, menyiapkan sejumlah produk pesanan di rumahnya, sekaligus tempat usahanya, Jalan Raya Muntal Gang Durian, Mangunsari, Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (7/7). Selama pandemi covid-19, hampir 80 persen penjualan dilakukan secara daring. 
CEO PT Identix Pratama Indonesia, Irma Susanti (kiri) didampingi kedua orang tuanya menunjukKan salah satu produk batik miliknya di toko pakaian Identix Semarang, baru-baru ini.
CEO PT Identix Pratama Indonesia, Irma Susanti (kiri) didampingi kedua orang tuanya menunjukKan salah satu produk batik miliknya di toko pakaian Identix Semarang, baru-baru ini. (tribunjateng/hermawan endra/ist)

LEWAT kain batik, tak dinyana kiprah Irma Susanti melanglang buana. Karya batik kontemporernya meluas, bahkan menembus pasar mancanegara hingga ke Jepang, Hongkong, Singapura, Malaysia, Perancis, Inggris, dan Spanyol.
Perempuan yang akrab disapa Irma saat masih menjadi mahasiswi dulu sudah merasa terpanggil untuk turut melestarikannya. Hanya saja, keinginan Irma itu baru bisa terwujud pada 2017 lalu. Selulusnya kuliah S1 di Universitas Negeri Semarang (Unnes) jurusan Antropologi tahun 2010, Irma seperti kebanyakan fresh graduate lainnya, yakni mencari kerja terlebih dahulu.
"Membangun label batik sendiri masih panjang. Dulu kerja ikut perusahaan dulu. Awal lulus kerja di saham karena skripsinya mengangkat tema ekonomi antropologi. Bertahan 6 bulan, lalu pindah kerja di salah satu cabang bank syariah di Kudus. Di sana cuman setahun. Ga bertahan lama karena bosan," kata perempuan berusia 31 tahun ini.
Setelah keluar bekerja, Irma kembali ke Kota Semarang untuk mencari tempat kerja baru. Ia pun akhirnya mendapat kesempatan bekerja di sebuah dealer mobilI. Ia bekerja cukup lama di sana sejak 2013 hingga resign pada 2017.
Banyak pengalaman dan ilmu yang didapat Irma selama tujuh tahun bekerja di perusahaan swasta. Ia banyak belajar mengenai manajemen strategi pemasaran, sumber daya, operasional, dan masih banyak hal lainnya.

Irma Susanti (kiri), pemilik batik tulis Identix, menyiapkan sejumlah produk pesanan di rumahnya, sekaligus tempat usahanya, Jalan Raya Muntal Gang Durian, Mangunsari, Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (7/7). Selama pandemi covid-19, hampir 80 persen penjualan dilakukan secara daring.
Irma Susanti (kiri), pemilik batik tulis Identix, menyiapkan sejumlah produk pesanan di rumahnya, sekaligus tempat usahanya, Jalan Raya Muntal Gang Durian, Mangunsari, Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (7/7). Selama pandemi covid-19, hampir 80 persen penjualan dilakukan secara daring. (Tribun Jateng/ Hermawan Handaka)

Berbekal pengalaman itu, perempuan kelahiran Kabupaten Pati ini mulai menyeriusi keinginannya dahulu untuk melanjutkan tradisi batik tulis. Dari profesional yang cukup mapan, Irma pun rela banting stir memulai keinginannya membangun usaha batik tulis dengan labelnya sendiri.
Mulai dari perhiasan, motor, hingga mobil hasil jerih payahnya selama bekerja dijual untuk modal usaha. Itu semua dilakukan untuk modal sewa ruko, beli kain, dan semacamnya. Dia bilang bahwa bisnisnya sekarang benar-benar dari keringatnya sendiri atau nol.
Singkat cerita, label batik usaha Irma itu diberi nama Identix. Identix sendiri merupakan singkatan dari Irma Design Batix. Filosofinya, kata Irma, Identix berasal juga dari kata identik yang memiliki makna ciri khas. Dia ingin dari labelnya ini, tiap orang yang melihat hasil karyanya jadi terkesan dan teringat kata Identix.
"Jadi, kalau ada desain karya saya, orang ingatnya Identix. Kita punya ciri khas yang berbeda dari lainnya. Tiap design karya saya selalu dibuat sangat terbatas. Sehingga, tak akan ada cerita baju kembar dengan orang lain," kata CEO atau pemilik dari PT Identix Pratama Indonesia itu.
Meski desain batiknya telah dipamerkan di banyak negara, Irma mengaku capaiannya itu tak instan. Awal dari nol, dia masih mengingat momen di kala bermotoran sembari dihadang hujan deras. Kala itu, dia yang memakai jas hujan sedang mengantarkan hasil batik tulis karya pertamanya ke alamat pemesan.
Ya, Irma yang masih lajang kala itu memang berjuang sendirian. Istilahnya, desain sendiri, buat sendiri, pasarkan sendiri, jual sendiri, kirimkan sendiri, dan rekap hasil penjualan sendiri juga. Semuanya serba sendiri. Di tengah segala usahanya yang serba sendiri, Irma juga ternyata sedang disibukan dengan kuliah program Magister Manajemen di Universitas Diponegoro.
"Saya ambil program itu karena kerjaan dulu di dealer mobil. Saat di sana, saya jadi tertarik buat lebih mendalami urusan manajemen. Ya, hitung-hitung buat bekal tambahan juga untuk membangun dan membuka usaha batik. Alhamdullilah, sekarang sudah lulus. Tapi karena pandemi, saya belum diwisuda," jelasnya.
Irma sebenarnya sudah sangat lama mengenal kegiatan batik-membatik. Sehingga, tidak ujug-ujug Irma memilih batik sebagai ide bisnis yang hendak dikembangkannya. Dia familiar dengan kegiatan batik tulis karena sejak kecil dulu telah diperkenalkan oleh ibunya yang memiliki kerja sampingan sebagai perias pengantin. Ibunya yang perias itu sering membuat baju kebaya batik.
Sisa-sisa bahan batik itu ternyata dibuat mainan oleh Irma. Dia yang senang menggambar pun merancang sebuah baju dengan bahan batik tulis sisa dari ibunya. Baju hasil iseng-isengan itu pun dipakaikan ke koleksi boneka milik Irma.
Bermula dari sana, kecintaan Irma terhadap batik pun muncul. Kemudian kian terpupuk saat Irma kuliah ilmu antropologi yang mempelajari soal budaya, manusia, seni, dan tingkah lakunya. Baginya, semua yang ia pelajari selama ini sangat berkesinambungan dalam usahanya merintis PT Identix Pratama Indonesia.
"Dari kecil memang suka gambar atau desain baju gitu. Kalau kuliah, pakaian saya harus paling beda dari teman lainnya. Saat masih kerja di dealer mobil pun, saya sempat kursus fashion desain selama enam bulan dengan dosen yang mengajar di Nanyang Art School, Singapura. Saat itu, saya kursus belajar soal cutting saja. Kursusnya tidak sampai selesai, tapi insyaallah, semua ilmunya sudah saya cerna," canda warga Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang ini.
Dari hanya ruko, kini Irma sudah memiliki galeri dan tempat produksinya sendiri. Total, dia sekarang telah memiliki sekitar 50 pekerja. Mereka semua terdiri dari pembatik, operator manajemen, pemasaran, dan desainer. Selain itu, Irma juga merambah bisnis ke dunia perkopian sejak tahun 2019.
Dalam waktu dekat, dia akan membuka kafe baru bernama Identix Coffee di sebelah galeri batiknya yang berlokasi di Jln Raya Muntal, Gang Durian V no 5A, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Dia mendapat biji-biji kopi yang dijualnya itu dari Temanggung, tempat ia dibesarkan.
"Orangtua dan saudara saya asal Temanggung. Bapak dan ibu juga mata pencarian utamanya sebagai petani tembakau dan kopi. Nah, saya coba-coba bawa biji kopinya keluar. Ternyata laris juga. Kopi dari label saya sampai ke pasar Jakarta, Bandung, Yogya, dan keluar negeri juga. Dalam pemasarannya, kopi dan batik sama, yakni melalui online. Dari metode ini, alhamdullillah kita bisa tembus pasar mancanegara," sambungnya.
Rata-rata, usaha yang dikembangkan Irma memang berorientasi pada kegiatan ekspor. Terutama batik, dia cukup mengirim banyak barang ke negara Perancis dan Jepang. Sebab, banyak warga di sana kepincut batik tulis karya Irma. Untuk memudahkan penjualan, dia bekerjasama dengan KBRI hingga pemerintah setempat.
"Sampai kita kerjasama dengan Gubernur Nagoya, Jepang. Beliau minta batik-batik karya saya dijual di salah satu stand tempat pariwisata gitu. Fashion Show ke berbagai negara pun alhamdullilah sudah banyak. Sebenarnya, 2020 ini saya mau ke Amerika Serikat karena diundang pameran di New York Fashion Week. Tapi, karena Covid-19, acaranya ditunda," papar Irma yang sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga itu. (gum)

Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved