Breaking News:

Pedagang di Pati Sebut Penjualan Arang dan Tusuk Sate Alami Penurunan Drastis

Momen hari raya iduladha dimanfaatkan warga Pati dengan memasak sate bersama keluarga dan teman.

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Momen hari raya iduladha biasanya dimanfaatkan masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Pati, untuk memasak sate bersama keluarga dan teman. Sate bakar adalah pilihan favorit banyak orang untuk mengolah daging sapi atau kambing dari sembelihan hewan kurban.

Kebiasaan ini otomatis membuat penjualan arang dan tusuk sate mengalami peningkatan drastis pada hari raya iduladha dan hari tasyrik. Namun demikian, tahun ini tidak demikian halnya.

Dewi, satu di antara penjual arang dan tusuk sate di sekitar GOR Pesantenan, Desa Puri, Pati, menyebut bahwa penjualan tahun ini jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Ramai tahun sebelumnya. Tahun ini tidak seperti biasanya. Mungkin pengaruh corona ya,” ucap dia ketika diwawancarai Tribunjateng.com, Sabtu (1/8/2020).

Dewi mengatakan, tahun lalu, dalam tiga hari masa lebaran iduladha, ia bisa menjual 20 sak arang. Masing-masing sak berisi 16 kilogram arang. Artinya total dalam tiga hari itu ia bisa menjual 320 kilogram arang.

“Kalau tahun ini, saya cuma kulakan sepuluh sak saja tidak habis,” ujar dia.

Dewi menjual arang dalam tiga kemasan, yakni kemasan setengah kilogram dengan harga Rp 5 ribu, kemasan satu kilogram dengan harga 10 ribu, dan kemasan 1,5 kilogram dengan harga Rp 15 ribu.

Kondisi serupa, menurutnya, juga terjadi pada penjualan tusuk sate. Jika biasanya ia bisa menjual ribuan tusuk sate dalam momen iduladha, tahun ini ia hanya mengulak 300 tusuk sate. Itu pun hingga H+1 iduladha ini belum habis terjual. (*)

Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved