Breaking News:

Kesehatan

Setelah Makan Daging Kurban Kok Malah Pusing?

Daging kurban, baik sapi atau kambing, bisa jadi berlimpah di momen iduladha. Ironinya, keenakan makan daging enak itu justru berbuntut pada kesehatan

Ilustrasi menu olahan sate dari daging kurban
Ilustrasi menu olahan sate dari daging kurban (Tribun Jateng/Indra Dwi Purnomo)

SEMARANG, TRIBUN - Hari Raya Iduladha selalu identik dirayakan dengan berbagai kuliner berbahan daging. Maklum, pada hari raya kurban ini, sebagian besar umat muslim memiliki stok daging cukup berlimpah, baik daging dari sapi maupun kambing.
Meski demikian, daging tak melulu bisa dikonsumsi tiap makan ataupun hari. Semua itu ada batasnya karena bisa saja beberapa gejala muncul karena kebanyakan makan daging.
Hal itu seperti dirasakan Dedi Hermanto, saat Idul Adha tahun lalu. Kala itu, Dedi selama dua hari berturut-turut memakan kuliner olahan daging kambing dan sapi pasca salat id.
Selama dua hari itu, dia pertama membakar sate kambing plus sapi. Lalu, lanjut di hari kedua, ia kembali bakar-bakar, namun dengan nuansa ala-ala barbeque.
Sontak, keesokan harinya, pria berusia 32 tahun ini mengalami sakit dan ngilu di bagian pundak kanan. Jika tangan kanannya didiamkan, sakitnya kian terasa.
"Itu sangat mengganggu sekali. Benar-benar sakit. Dipijat pun ga mempan. Sakitnya mulai mereda setelah banyak digerakin. Tapi benar-benar hilang nyerinya saat saya diberi obat asam urat. Padahal, saya ga paham gejala yang saya alami jenis sakitnya seperti apa," kata warga yang tinggal di sebuah kos, area Kecamatan Tembalang, Kota Semarang itu.
Dedi mengaku, selama dua hari itu memang sepenuhnya hanya mengonsumsi daging. Seingat Dedi, hari pertama ia makan rendang sapi, lalu siang gulai, dan malamnya bakar sate.
Lanjut ke hari kedua, Dedi masih makan rendang sisa kemarin, kemudian siang mengonsumsi gepuk sapi dari tetangga, dan malam kembali bakar-bakaran. Ia hapal, sayur-sayuran yang dimakannya saat itu hanya acar dari sate saja.
"Saya dulu lanjut aja tanpa pikir panjang. Sekarang, Iduladha ini saya jadi pikir kalau makan daging. Saya akui, dulu memang kelewatan sih saking banyaknya dapat daging. Takut ga kepakai dagingnya," ungkap warga asli Kabupaten Jepara itu.
Sementara, hal berbeda dilakukan Fadrin Fadlan tiap momen Iduladha dirayakan. Dia tahu betul kalau dirinya memiliki kolesterol. Sebab, tiap memakan daging merah dengan porsi banyak, leher belakang, hingga kepalanya jadi terasa pening dan berat.
Maka, untuk menyiasatinya, laki-laki yang akrab disapa Ari ini berusaha menetralkannya dengan memakan timun ataupun semangka setelah mengonsumsi daging. Di tiap momen-momen memakan daging seperti hari kurban saat ini, dia tak bakal lupa menyediakan timun dan semangka sebagai penutup.
Beberapa kali, pria berusia 28 tahun ini pun meminum jus buah tanpa gula sehabis makan daging. Ari beranggapan, konsumsi buah-buahan sebagai anti-oksidan dan vitamin penangkal kandungan lemak jenuh pada daging yang dimakan sebelumnya.
"Misalkan kalau habis bakar-bakar daging, saya pasti makan buah atau timun sebagai anti-oksidan penangkal karbon yang menempel pada daging bakarnya. Hal itu yang selalu saya lakukan semisal mau bakar-bakaran sate," terang warga Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang ini.
Intinya, kata Ari, konsumsi daging harus diimbangi dengan buah-buahan dan sayuran. Sehabis pesta daging, dia selalu menjauhi kebiasaan meminum sirup dingin karena ia yakin kandungan gulanya akan memicu gejala kolesterol yang diidapnya.
"Nah itu juga, kebiasaan kita sering makan-makan pesta daging dengan minumnya pakai es sirup. Entah kenapa, saya menjauhi minuman yang mengandung gula plus dingin. Saya lebih suka minum yang hangat-hangat kalau habis makan daging. Ya biar ga kembung saja di perut," pungkasnya. (akhtur gumilang)

Editor: moh anhar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved