Covid19

Situasi Tak Wajar Buat Indonesia Alami Inflasi Terendah Sejak Mei 2000

Inflasi biasanya cukup tinggi pada satu bulan setelah Lebaran, atau Juli tahun ini. Tetapi, pada Juli justru terjadi deflasi 0,1 persen.

Editor: Vito
tribunnews
Kepala BPS, Suhariyanto 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahun kalender Januari hingga Juli 2020 sebesar 0,98 persen, sekaligus menjadi yang terendah sejak Mei 2000. Angka inflasi saat itu tercatat 1,2 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, rendahnya inflasi itu menyebabkan munculnya pertanyaan apakah itu wajar atau tidak. Sebab, inflasi biasanya cukup tinggi pada satu bulan setelah Lebaran, atau Juli tahun ini. Tetapi, pada Juli justru terjadi deflasi 0,1 persen.

"Apakah wajar atau tidak? Jawabannya adalah karena memang tahun 2020 ini situasinya adalah tidak wajar. Pergerakan inflasi pada tahun ini beda jauh dengan pergerakan inflasi tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi covid-19," ujarnya, dalam teleconference, Senin (3/8).

Pada tahun-tahun sebelumnya, Suhariyanto menuturkan, dalam kondisi normal, Ramadan dan Lebaran selalu menjadi puncak inflasi. Hal itu menyusul peningkatan permintaan dan uang beredar pada periode tersebut. "Tetapi, tidak terjadi pada tahun ini. Jadi, ya memang wajar, karena situasinya memang tidak normal," jelasnya.

Suhariyanto menyatakan, penyebab rendahnya pergerakan inflasi pada Juli 2020 karena daya beli masyarakat turun. Dampak pandemi covid-19 membuat permintaan mengalami penurunan sejak Maret 2020 hingga sekarang.

"Dari sisi dari permintaan, daya belinya berkurang banyak, ada PHK dan sebagainya. Dari sisi pasokan otomatis juga akan terganggu, jadi itu sebabnya inflasi tahun kalender dari Januari sampai Juli 2020 hanya 0,98 persen, masih lemah sekali," paparnya.

"Coba perhatikan inflasi pada awal tahun atau Januari 2020 itu 0,39 persen. Masih normal, karena suasananya normal semua, covid-19 belum sampai ke sana (menyebabkan penurunan daya beli-Red)," tambahnya.

Menurut dia, tanda-tanda permintaan mulai turun pada Februari dengan lesunya sektor pariwisata, sebagai imbas anjloknya jumlah wisatawan mancanegara.

"Pariwisata dan berbagai sektor pendukungnya mulai terdampak, berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat. Kemudian, April dan Mei diterapkan work from home, berpengaruh dari sisi permintaan dan pasokan, jadi pengaruh covid-19 ini luar biasa," tandasnya. (*)

Sumber: Tribunnews.com
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved