Breaking News:

PSIS Semarang

CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi Bicara Soal Rumitnya Keuangan Klub saat Pandemi Corona

CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi menuturkan, di masa pandemi ini finansial tim menjadi rumit

tribunjateng/m sofri kurniawan
YOYOK SUKAWI 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - PSIS Semarang menjadi salah satu klub yang mengaku keberatan dengan anggaran subsidi bulanan dari PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) yang berjumlah 800 juta rupiah.

Sebetulnya angka tersebut audah dinaikkan menjelang rencana kompetisi Liga 1 yang akan digulirkan kembali pada 1 Oktober mendatang. Semula, dana subsidi tersebut ada dikisaran angka 500 juta rupiah.

CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi menuturkan, di masa pandemi ini finansial tim menjadi rumit.

Pertama Kenalan, Nikita Willy Mengira Indra Priawan Makelar Tanah, Berawal dari Pembalasan Teman

Park Bo Gum Ungkap Pendapat Soal Sa Hye Joon di Drakor Record of Youth, Drama Terakhir Sebelum Wamil

Sopir Angkot Ngaku HRD, Perdaya Belasan Gadis, Korban Diminta Bugil untuk Tes Kesehatan & Disetubuhi

Promo Superindo Hari Kerja 3-6 Agustus 2020, Ini Daftar Lengkapnya, Patuhi Protokol Kesehatan Ya

Bahkan ia menyebut tak ada tolak ukur jika ditanya, berapa pengeluaran PSIS tiap bulannya?.

Yang jelas, ia mengatakan dana 800 juta rupiah tersebut nominalnya kurang memenuhi. Oleh sebab itu, pihaknya berharap PT. LIB bersedia merevisi penetapan jumlah subsidi tersebut agar bisa dinaikkan lagi.

"Kalau sekarang, bisa dibilang tidak ada tolak ukurnya jumlah pengeluaran kita. 800 juta itu hanya dipakai untuk membayar seperlima gaji bulanan tim," kata Yoyok saat dihubungi.

Namun demikian, Yoyok menegaskan dengan adanya himbauan dari pemerintah dan PSSI agar roda kompetisi bisa dijalankan kembali, pihaknya harus tetap memaksimalkan jumlah yang ada.

"Cuma kan pemerintah, PSSI berharap liga tetap jalan. Ya kita berusaha memberi tontonan ke penonton.

Ya kita berjuanglah dengan situasi yang ada itu kita maksimalkan saja," kata Yoyok.

Di sisi lain, Yoyok mengatakan pihaknya masih mempertanyakan mekanisme mengenai aturan harus melakukan swab test saat kompetisi bergulir.

Yoyok mengatakan, soal pembiayaan swab test bisa menjadi tanggung jawab PT LIB sepenuhnya.

"Protokol kesehatan itu termasuk kita minta agar ditanggung LIB semua. Kalau klub, tidak mampu karena itu mahal sekali.

Kami minta kejelasan ke LIB protokolnya seperti apa terkait swab. Mekanismenya bagaimana," ujarnya.

"Kami justru sama dengan teman-teman media. Itu bagaimana mekanismenya terkait swab test, dan protokol kesehatan secara keseluruhan pada saat liga bergulir nanti," tandasnya. (*)

Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved