Breaking News:

Berita Kudus

Lakukan Penjamasan, Nadjib Ingin ‎Keris Sunan Kudus Tetap Terjaga‎

‎Jamas berasal dari bahasa Jawa yang berarti mencuci pusaka, yang dilakukan untuk merawat dan menjaga keris agar bebas dari karat

Istimewa
Penjamasan Keris dipimpin KH. Ahmad Badawi Basyir dan dibantu juru jamas H. Faqihuddin di sebelah utara pendapa Tajug Menara Kudus, Kamis (6/8/2020) 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menggelar penjamasan Keris Kiai Cinthaka Kanjeng Sunan Kudus, Kamis (6/8/2020) pagi.

‎Jamas berasal dari bahasa Jawa yang berarti mencuci pusaka, yang dilakukan untuk merawat dan menjaga keris agar bebas dari karat.

Menurut Ketua YM3SK, Em Nadjib Hassan mengatakan, penjamasan pusaka tersebut untuk lebih menampakan pamor keris supaya lebih bersinar.

"Penjamasan ini juga supaya pusaka terjaga dari kerusakan," jelas dia, dalam keterangannya.

Kiai Cinthaka adalah keris milik Kanjeng Sunan Kudus. Keris tersebut diperkirakan berasal dari zaman Majapahit akhir.

September Bantuan Pemerintah Rp 2,4 Juta Ditransfer Langsung ke Rekening Karyawan, Ini Mekanismenya

Update Virus Corona Jawa Tengah Kamis 6 Agustus 2020

Ditolak Mentah-mentah Wakil Ketua DPRD Solo, Seperti Ini Jenis Mobil Dinas Baru Seharga Rp 600 Juta

Aksi Kejar-kejaran Polisi Solo dengan Pelaku Pencurian Mobil Operasional BRI, Berakhir di Laweyan

"Sedangkan bentuk atau tipe bilah kerisnya adalah 'Dapur Penimbal' yang memiliki makna kebijaksanaan dan kekuasaan," kata dia.

Adapun pamor Keris Kiai Cinthaka adalah 'Wos Wutah' yang melambangkan kemakmuran, keselamatan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Keris Kiai Cinthaka memiliki 'ricikan' atau kelengkapan, di antaranya : Luk Sembilan, Lambe Gajah Satu, Jalen, Pejetan, Tikel Alis, Sogokan Ngajeng lan Wingking, Sraweyan, dan Greneng duri dibuntut/ekor keris).

"Emas yang menempel di gandhik keris adalah jenis 'Kinatah Panji Wilis' yang merupakan simbol topeng emas untuk wajah keris," ucapnya.

Dia menyampaikan, penjamasan Keris Kiai Cinthaka dilakukan satu tahun sekali, yaitu pada hari Senin atau Kamis pertama setelah hari Tasyrik, atau tanggal 11 sampai dengan 13 Dzulhijjah.

Halaman
12
Penulis: raka f pujangga
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved