Breaking News:

Transportasi Umum

Pandemi Corona Bikin Penumpang BRT Anjlok Drastis

Adanya pembatasan kegiatan masyarakat saat pandemi covid-19, membuat sektor transportasi terpuruk, termasuk bus Trans Semarang.

ISTIMEWA
BRT Trans Semarang Shelter Simpanglima 

-Pengusaha Angkot Minta Segera Dilibatkan dalam Feeder Trans Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang menurunkan target pendapatan. Semula Trans Semarang menargetkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 33 miliar. Kemudian, diturunkan menjadi Rp 19 miliar.

Plt Kepala BLU Trans Semarang, Hendrix Setyawan mengakui, jumlah penumpang sangat mengalami penurunan. Bahkan, saat dua bulan pertama masa pandemi Covid-19 penurunan mencapai 80 persen.

Sejak pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) di Kota Semarang mulai diberi kelonggaran-kelonggaran, Trans Semarang sudah mulai mengalami peningkatan penumpang. Namun, jumlah penumpang tentu tidak sebanyak sebelum masa pandemi. Pihaknya hingga saat ini masih memberlakukan social distancing di dalam armada sehingga jumlah penumpang sangat terbatas.

Biasanya armada besar dapat memuat 80 penumpang. Pada masa pandemi ini hanya dapat diisi 40-50 penumpang saja. Adapun armada kecil normalnya dapat menampung 40 penumpang, saat ini hanya 20-22 penumpang saja. Tentu, pembatasan ini sangat mempengaruhi pendapatan hingga akhirnya target pendapatan harus diturunkan.

"Target sebelumnya Rp 33 miliar, sekarang jadi Rp 19 miliar. Kami optimistis bisa mencapai target yang telah disesuaikan. Saat ini pendapatan rata-rata sebesar Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,4 miliar per bulan," sebut Hendrix, Jumat (7/8).

Meski pendapatan turun, dia memastikan, operasional Trans Semarang masih bisa terus berjalan. Atas komitmen Wali KotaSemarang, transportasi umum milik pemerintah masih menjadi prioritas yang masuk dalam APBD, meski juga turut terkena rasionalisasi anggaran.

Guna meminimalkan biaya operasional, pihaknya pun menyiasati dengan mengurangi ritase atau perjalanan armada.

"Kami siasati dengan pengurangan ritase. Armada yang biasanya enam ritase jadi lima, yang biasanya delapan jadi enam, dan yang sepuluh jadi delapan," urainya.

Terkait pengembangan transportasi di masa adaptasi new normal,sebelumnya Organda Semarang berharap pelibatan para pengusaha angkot di Kota Semarang dalam Feeder Angkot segera terlaksana.

Ketua Organda Semarang, Bambang Pranoto Utomo, mengatakan, feeder angkot ini sama seperti layanan feeder BRT Trans Semarang yang berfungsi menyambungkan penumpang-penumpang yang berada dirute yang tidak dilintasi BRT, selanjutnya diteruskan pada titik lintasan BRT.

"Nantinya angkot-angkot di Kota Semarang akan terintegrasi dengan layanan BRT Trans Semarang," katanya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, layanan seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam pengentasan masalah transportasi.

"Adanya realisasi feeder angkot ini juga dapat segera memulihkan perekonomian dari para pengusaha dan sopir angkot yang terdampak pandemi covid-19," katanya.

Seperti diketahui bahwa pandemi Covid19 sempat membuat para sopir tidak memperoleh penghasilan untuk mencegah penularan Covid19

"Dari data kami ada 2 ribu sopir angkot di Kota Semarang dan semuanya terdampak Covid19. harapannya pandemi Covid19 segera berlalu," pungkasnya. (eyf/dap)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved