Breaking News:

Koalisi Peduli Mbah Tun akan Pasang Replika Putusan Sidang PTUN di Tanah yang akan Dieksekusi

Koalisi Peduli Mbah Tun merencakanan akan memasang replika salinan putusan sidang PTUN di tanah milik Mbah Tun.

TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN
Replika putusan Kasasi MA Nomor 139 K/PDT/2015 yang di sawah milik Mbah Tun. Rencananya, PN Demak akan melakukan eksekusi tanah ini berdasarkan permohonan pemenang lelang. 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK-Koalisi Peduli Mbah Tun merencakanan akan memasang replika salinan putusan sidang PTUN di tanah milik Mbah Tun.

Mewakili Koalisi Peduli Mbah Tun, Misbakhul Munir mengatakan, pemasangan itu bertujuan mengingatkan kepada PN Demak, kalau Mbah Tun sudah menang di PTUN.

"Seharusnya BPN membatalkan sertifikat yang beralih nama menjadi Deddy setyawan karena PTUN sudah mengabulkan gugatan penggugat," katanya kepada Tribunjateng.com, Sabtu, (8/7/2020).

Rencananya pemasangan replika putusan PTUN akan ditaruh di samping replika putusan MA.

Dengan pemasangan replika putusan MA dan PTUN tersebut, Munir berharap PN Demak bisa mempertimbangkannya, sehingga tidak melakukan eksekusi.

"PN Demak lebih baik mengindahkan dan menjalankan putusan MA dan putusan PTUN," imbuhnya.

Seperti diketahui, Mbah Tun menjadi korban penipuan oleh Musthofa. Awalnya, Musthofa meminjam sertifikat tanah milih Mbah Tun dengan alasan untuk mendapat bantuan pakan ternak. Lantas beberapa hari kemudian setelah sertifikat berhasil didapatnya, Musthofa bersama dua orang mendatangi Mbah Tun lagi dan meminta cap jempol.

Tanpa Mbah Tun ketahui, cap jempol tersebut ternyata untuk keperluan berkas proses jual beli tanah dari Mbah Tun ke Musthofa. Mbah Tun yang buta huruf tidak mengetahui isi berkas tersebut akhirnya dengan mudah ditipu Musthofa.

Setelah sertifikat tanah beralih nama menjadi Musthofa, Musthofa lalu menjadikan sertifikat tersebut sebagai agunan di Bank Danamon. Karena tidak ada tindak lanjut dari Musthofa, pihak bank melelang sertifikat tersebut dan Deddy Setyawan Haryanto menjadi pemenangnya.

Mbah Tun yang tidak terima dengan penipuan tersebut akhirnya menempuh jalur hukum untuk memperjuangkan tanahnya. Ia mengajukan gugatan di PTUN.

Dalam sidang di PTUN tersebut, gugatan Mbah Tun terkait pembatalan sertifikat atas nama Deddy Setyawan Haryanto dikabulkan majelis hakim.

Majelis hakim menyatakan tidak sah peralihan Sertifikat Hak Milik Nomor 11 terancam Deddy Setyawan Haryanto; memerintahkan kepada tergugat dalam hal ini BPN Demak untuk mengembamikan kedudukan Sertifikat Hak Milik Nomor 11 dari Dedy Setyawan kepada Sumiatan (Mbah Tun-red); mewajibkan kepada tergugat dalam hal ini BPN Demak mencoret peralihan SHM atas nama Deddy Setyawan Haryanto.

Selain itu juga, pada 2015 putusan Kasasi MA menyatakan membatalkan akta jual beli yang menjadi dasar peralihan hak milik dari penggugat kepada tergugat karena secara hukum terjadi perbuatan melawan hukum. Juga menyatakan secara hukum bahwa penggugat adalah pemilik sah Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 11 aras nama Sumiyatun binti Maksun.

Dengan adanya dua putusan tersebut, Munir berpendapat seharusnya Mbah Tun tinggal menunggu proses peralihan tanah tersebut kembali menjadi miliknya lagi. (*)

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved