Ledakan Maha Dahsyat di Beirut: Masih Sekitar 100 Orang Belum Diketahui Nasibnya

Masih ada sekitar 100 orang yang belum diketahui nasibnya dalam ledakan maha dahsyat di Pelabuhan Beirut.

Editor: sujarwo
STR via AFP
Sebuah helikopter berusaha memadamkan api dalam ledakan yang terjadi di pelabuhan Beirut, ibu kota Lebanon, pada 4 Agustus 2020.(STR via AFP) 

TRIBUNJATENG.COM -  Masih ada sekitar 100 orang yang belum diketahui nasibnya dalam ledakan maha dahsyat di Pelabuhan Beirut, Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 150 orang, dan sekitar 5.000 orang luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis.

Menurut Palang Merah Lebanon, yang dikutip aljazeera.com, Sabtu, 8 Agustus 2020, sebagian besar orang yang dinyatakan masih belum ketahuan nasibnya itu bekerja di pelabuhan yang meledak pada Selasa, 4 Agustus lalu.

Upaya pencarian korban dibantu regu penolong dari sejumlah negara antara lain Perancis, dan Turki. Namun, mereka pesimis bisa menemukan orang yang hidup setelah empat hari berlalu.

"Kami berupaya sebisa mungkin untuk menemukan orang yang masih hidup, atau terperangkap (reruntuhan). Namun, sejauh ini yang kami temukan hanyalah sisa tubuh manusia yang sudah tak bisa dikenali," kata seorang petugas penolong yang mengaku sudah bekerja nonstop selama 48 jam terakhir.

Sejumlah negara sudah mengirim regu penolong, kata petugas tersebut, tapi mungkin sudah terlambat untuk menolong orang yang masih terperangkap di bawah reruntuhan.

Ledakan yang berasal dari amonium nitrat seberat 2.750 ton telah meluluh-lantakkan sekitar sepertiga ibu kota Lebanon tersebut.

Kerusakan yang ditimbulkan ledakan itu antara lain rumah yang dihuni sekitar 300.000 orang tak lagi layak digunakan. Mereka terpaksa mengungsi.

Menurut taksiran badan PBB yang membidangi anak-anak, Unicef, sekitar 100.000 anak-anak terpaksa mengungsi akibat rumah mereka hancur atau rusak parah.

Sekitar separuh dari mereka juga tak bisa bersekolah karena sekolahan mereka hancur atau rusak parah.

Sedemikian dahsyat ledakan itu, sampai suaranya terdengar di Siprus yang berjarak sekitar 200 km dari Beirut.

Kaca-kaca gedung atau rumah yang berjarak sekitar 10 km dari pusat ledakan pecah berantakan.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan, penyelidikan memfokus pada ledakan di gudang pelabuhan itu apakah disebabkan oleh faktor kecerobohan, atau kecelakaan, atau ada campur tangan dari luar.

Berdasarkan laporan resmi, amonium nitrat sebanyak 2.750 ton sudah tersimpan selama sekitar enam tahun di gudang pelabuhan.

Bahan kimia tersebut merupakan komponen untuk pembuatan pupuk, dan bahan peledak.

Menurut Aoun, Liga Arab sudah bersedia untuk membantu dalam proses penyelidikan. (*)

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved