Breaking News:

Liputan Khusus

BKPM Jateng Sebut 841 Proyek PMA masih Berjalan

Dibandingkan dengan kuartal I, kuartal II April-Juni 2020 realisasi investasi penanaman modal asing di Jateng naik ke urutan 8. Total 841 proyek

TRIBUN JATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Ratna Kawuri. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berdasar data BPS, pertumbuhan ekonomi RI terkontraksi -5,32 persen pada kuartal II tahun 2020. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga menyatakan, April lalu, hampir semua investasi terhenti karena pandemi Covid-19. Penurunan invetasi terjadi pada beberapa sektor, antara lain sektor energi, pariwisata, agroindustri, otomotif, dan tekstil.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Ratna Kawuri, menjelaskan pandemi Covid-19 sudah menggerus semua tatanan ekonomi.

"Sudah merontokkan sendi-sendi ekonomi. Investasi sangat berimplikasi langsung dengan kondisi makro ini. Walau sudah dikatakan new normal, tapi kondisi ekonomi yang sebenarnya justru masih belum normal," tegasnya.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi penanaman modal asing kuartal I (Januari-Maret) di Jawa Tengah turun di urutan ke 12. Dengan nilai investasi sebesar US$ 321 juta dan 436 proyek. Provinsi yang masuk dalam tiga besar yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan urutan ketiga Maluku Utara.

Dibandingkan dengan kuartal I, kuartal II April-Juni 2020 realisasi investasi penanaman modal asing di Jateng naik ke urutan 8. Dengan total 841 proyek yang sedang berjalan. Namun angka investasinya justru turun menjadi US$ 305 juta. Posisi tiga besar kini diambil alih oleh Jawa Barat, berikutnya DKI Jakarta, dan ketiga Jawa Timur.

"Kami berharap seluruh sektor ekonomi di Jawa Tengah bisa menyesuaikan diri di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19. Sehingga kita bisa beraktifitas secara maksimal. Sumberdaya yang kemarin terpakai untuk penanganan Covid-19, bisa dialokasikan lagi untuk pengembangan usaha dan investasi," terang Ratna Kawuri.

Di beberapa kawasan industri yang ada di Jawa Tengah, menurut Ratna sudah ada yang mulai melakukan konstruksi. Namun, justru masih lebih banyak yang terhenti karena pandemi Covid-19. "Saya pantau kemarin sudah ada yang mulai konstruksi. Tapi yang terpending juga lebih banyak. Kami terus dorong supaya investasi di berbagai sektor tetap terus tumbuh, walaupun perlahan," harapnya.

Terpisah, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah, Zainudin, mengatakan, ada beberapa perusahaan yang berhenti operasi, karena terus merosot kondisinya. Namun sebagian sudah mulai menggeliat dan mempekerjakan lagi buruh yang kemarin dirumahkan.

"Belum 100 persen buruh di Jawa Tengah kembali bekerja. Justru faktanya ada beberapa perusahaan yang kondisinya semakin buruk. Walaupun sudah merumahkan karyawan hingga melakukan PHK untuk memangkas biaya operasional. Tapi tetap saja mereka tidak bisa survive," kata Zainudin.

Dari berbagai sektor industri, menurut Zainudin sektor garmen merupakan yang paling terdampak pandemi. Sebab ketika ekonomi sedang sulit, masyarakat cenderung akan mengesampingkan untuk membeli pakaian.

"Daripada buat beli pakaian, masyarakat lebih memilih beli kebutuhan pokok. Selain masih sulitnya ekonomi masyarakat, di saat seperti ini bertahan adalah pilihan yang tepat. Apalagi perusahaan garmen yang ada terkendala pengiriman produk untuk ekspor," tuturnya. (tim)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved