Breaking News:

Liputan Khusus

Siti Cari Kerja Lain setelah Perusahaannya Mempelakukan Begini

Saat ini sebagian dari mereka sudah mulai dipekerjakan lagi seiring kondisi yang membaik. Namun masih banyak buruh yang belum dipanggil

Tribunjateng/Youtube
ILUSTRASI menjahit 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ribuan pekerja di Jateng dirumahkan atau mengalami PHK selama pandemi Covid-19 ini. Saat ini sebagian dari mereka sudah mulai dipekerjakan lagi seiring kondisi yang membaik. Namun masih banyak buruh yang belum dipanggil kembali oleh perusahaannya untuk bekerja.

Satu di antara pekerja itu adalah Siti Munaroh, buruh di perusahaan garmen di Kota Semarang. Siti mengungkapkan, dirinya sedang dirundung rasa ketidakpastian sejak dirumahkan oleh perusahaannya.

"Saya dirumahkan sejak April 2020. Hingga saat ini pun tidak ada kabar atau info kapan saya akan bekerja lagi. Aktivitas perusahaan juga belum ramai. Hanya ada beberapa orang dari manajemen pabrik yang bekerja," kata Siti.

Dia tidak tahu bagaimana statusnya saat ini. Jika memang diPHK maka dia akan tuntut hak pesangon. Meski Siti juga tak terlalu berharap mendapat pesangon. "Karena saya lihat teman-teman di pabrik lain kasusnya sama. Yang kena PHK tidak mendapatkan pesangon. Padahal sesuai aturan harus ada pesangon," tuturnya.

Karena status tak menentu akhirnya Siti cari kerjaan lain. "Sudah sejak Juni saya mencari pekerjaan lain. Kadang serabutan pun saya lakoni demi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Siti kini sudah bekerja di sebuah perusahaan konfeksi di Kota Semarang. Dia mendapatkan tugas untuk menjahit dan mengecek jahitan pakaian. Walau gajinya tak sebesar saat dirinya bekerja di pabrik garmen, setidaknya sudah ada penghasilan.

"Yang penting ada untuk makan dan kebutuhan lainnya. Hasil tabungan kemarin juga saya gunakan untuk beli mesin jahit bekas. Dengan harapan bisa ada tambahan pendapatan," ucapnya.

Terpisah, DR Kardoyo, MPd dosen pendidikan ekonomi Unnes menyebutkan, di masa pandemi ini, lulusan SMA/SMK yang mau cari kerja, atau sarjana fresh graduate harus membekali diri dengan keahlian tambahan.

Lulusan baru perlu self aware. Yakni dengan menilai diri sendiri tentang kelemahan dan kelebihan. Kelebihan diasah terus menerus untuk menutup kekurangan yang ada sehingga ketika melakukan tes dan wawancara bisa ditampilkan untuk menutup kekurangan. Selain itu, persiapan mental juga lebih penting.

Kardoyo terangkan, persiapan berikutnya adalah mengontrol emosi. Saat interview akan kelihatan calon pekerja yang emosional maupun sabar. Dan jangan lupa, menjaga attitude di mesia sosial sangat penting.

"Sekarang perusahaan, atau instansi minta pada calon untuk menyampaikan account media sosial, untuk dilacak bagaimana kondisi emosi seseorang. Maka bijaklah memanfaatkan media sosial," terangnya.

Menurut Kardoyo kemampuan mendengar juga sangat penting, baik dengan teman sejawat atau atasan. Tujuannya untuk membangun hubungan dalam satu tim kerja secara lebih baik dan mengurangi konflik antar sesama karyawan.

Lulusan baru, bila ingin jadi wirausahawan maka sebaiknya punya perencanaan matang. Sebab menurut Kardoyo tidak ada keberhasilan tanpa perencanaan yang matang, proses produksi, target, peluang, perkenalan produk dan sebagainya direncanakan sedini mungkin secara matang. Pengelolaan modal juga harus dikuasai antara lain dana dan keahlian. (tim)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved