Breaking News:

Pembiayaan Multifinance Tahun Ini Tak Tumbuh Saja Sudah Bagus

Bisnis pembiayaan yang dijalani multifinance bakal mengalami penurunan sepanjang 2020, akibat dampak pandemi covid-19.

Tribunjateng.com/Hermawan Handaka
ILUSTRASI/penjualan mobil bekas di sentra mobil bekas ACC di Jalan Gajah Mada No 138 Semarang. 

JAKARTA, TRIBUN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bisnis pembiayaan yang dijalani multifinance bakal mengalami penurunan sepanjang 2020, akibat dampak pandemi covid-19.

Hal itu diungkapkan Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK, Bambang W Budiawan, Menurut dia, industri multifinance tidak tumbuh saja hingga akhir tahun sudah bagus.

“Namun kemungkinan secara tahunan di Desember 2020 masih negatif. Pertumbuhan pembiayaan itu simetris dengan pertumbuhan ekonomi. Secara bulanan ada pergerakan, tetapi ditotal secara akumulatif, year on year agak sulit menemukan angka plus. Mungkin turun sekitar 4-6 persen,” ujarnya, melalui video conference, Rabu (12/8).

Bambang menjelaskan, hingga Mei 2020 aset perusahaan pembiayaan turun 1,42 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 507,11 triliun, lantaran piutang pembiayaan turun sebesar 6,38 persen yoy menjadi Rp 420,25 triliun selama 5 bulan pertama tahun ini.

“Sumber pendanaan perusahaan pembiayaan dari pinjaman dalam dan luar negeri, serta obligasi sebesar Rp 342,87 triliun atau mengalami penurunan 3,93 persen yoy. Sedangkan aset kelolaan sebesar Rp 667,96 triliun atau turun sebesar 2,15 persen. Laba pada Mei 2020 sebesar Rp2,66 triliun atau turun sebesar 64,64 persen yoy,” tuturnya.

Senada, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (AAPI), Suwandi Wiratno memproyeksi penurunan pembiayaan sampai akhir tahun sebesar 2-3 persen. “Saya setuju dengan Pak Bambang (OJK-Red), bila optimistis pembiayaan bisa minus 3 persen, kalau worse scenario bisa minus 5-6 persen,” ucapnya.

Ia menyebut, kuncinya adalah bila perbankan mau memberikan kredit sebagai likuiditas. Saat ini, menurut dia, perusahaan pembiayaan yang sudah kembali menyalurkan pinjaman ialah yang memiliki likuiditas. "Saya lihat 30-40 persen sudah mulai masuk kembali. Sebab sebagian besar perusahaan pembiayaan sangat bergantung pada pinjaman perbankan,” paparnya.

Suwandi menuturkan, sebanyak 63 persen portofolio pembiayaan kami ada di industri kendaraan bermotor roda dua dan empat. "Padahal, penjualan kendaraan bermotor baik roda dua dan empat yang baru turun, begitupun untuk bekas. Sedangkan Alat berat juga susah akibat komoditas juga terkena dampak serta isu lingkungan,” paparnya.

Saat ini, dia menambahkan, industri multifinance hanya bisa mengandalkan nasabah eksisting berupa pembiayaan dana. Tetapi di sisi lain, ada aturan OJK yang membatasi boleh memberikan maksimum 25 persen untuk pembiayaan dana. (Kontan/Maizal Walfajri)

Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved