Warga Pesahangan Berburu Pandan sampai Cianjur demi Produksi Tikar Tradisional

Ada pemandangan tak biasa di Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu Cilacap.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jaten/Khoirul Muzakki
Tikar pandan produksi warga Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu Cilacap. 

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP-Ada pemandangan tak biasa di Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu Cilacap. Saat kaum pria pergi ke ladang untuk bertani,  ibu-ibu rumah tangga punya kesibukan sendiri di rumah. 

Seorang ibu rumah tangga tampak telaten mengolah daun pandan.  Jemarinya cekatan menganyam daun pandan kering hingga mewujud tikar yang laku jual.  

Keterampilannya dimiliki pula banyak perempuan di desa ini.  Keahlian menganyam pandan sudah mendarah daging bagi warga Pesahangan. Keterampilan itu diwariskan secara temurun sejak puluhan tahun silam. 

Meski dalam perkembangannya, tikar tradisional ini banyak menghadapi tantangan di tengah gempuran produk-produk pabrikan. 

Produksi tikar pandan nyatanya masih bertahan hingga sekarang. Produk kerajinan tangan itu masih diminati pasar dengan keunggulan yang dimiliki. 

Keterampilan warga yang diturunkan oleh nenek moyang masih terpakai hingga sekarang. 

"Sudah dari dulu di sini ada kerajinan tikar," kata Mad Sodikin, warga Desa Pesahangan, Kamis (13/8)

Mad Sodikin tak tahu kapan persisnya industri rumahan tikar pandan di desanya bermula. Ia hanya mengingat, usaha rakyat itu ada sejak dahulu kala tanpa menyebut angka. 

Yang pasti, tradisi mengolah pandan berawal dari kelimpahan bahan baku itu di alam. Dahulu,  di hutan dan kebun-kebun warga, banyak tumbuh tanaman pandan. Warga memanfaatkan produk alam itu untuk membuat kerajinan yang bernilai.  Tikar pandan saat itu masih menjadi kebutuhan vital rumah tangga masyarakat tradisional. 

Warga pun menanam tanaman itu untuk menjamin keberlangsungan industri rumahan mereka.  Hingga suatu ketika, tanaman pandan di kebun maupun hutan terserang wabah penyakit yang susah teratasi. Banyak tanaman mati. 

Sayangnya, warga kemudian tak menanam lagi untuk mempertahankan kelestarian tanaman itu. Lahan pandan terus menyusut hingga warga kekurangan bahan baku. 

"Dulu di sini banyak tanaman pandan, jadi ambilnya di sekitar sini saja,"katanya

Bahan baku di alam boleh menyusut, namun keterampilan warga tidak lantas raib. Tradisi menganyam pandan susah dihilangkan. Terlebih produk itu masih diminati pasar sehingga masih menjanjikan ekonomi bagi warga. 

Karena ketiadaan bahan baku di desa, warga rela berburu pandan keluar daerah. Beban pekerjaan warga menjadi tambah berat. Mereka yang sebelumnya tinggal memetik di hutan dan kebun sekitar desa, kini harus berjuang keras untuk mendapatkan pandan hingga luar kota atau provinsi

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved