Breaking News:

Pinjaman Fintech P2P Lending Terus Melejit di Tengah Pandemi

Penyaluran pinjaman financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 113,46 triliun hingga Juni 2020.

Kontan/Muradi
ILUSTRASI/Fintech 

JAKARTA, TRIBUN - Penyaluran pinjaman financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 113,46 triliun hingga Juni 2020. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis pada Rabu (12/8), nilai itu tumbuh 153,23 persen year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 44,8 triliun.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebut, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan di tengah pandemi.

Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI, Tumbur Pardede mengatakan, jumlah penyelenggara terdaftar di OJK tiap tahun bertambah. Kedua, masyarakat semakin banyak yang mengenal dan memanfaatkan fintech P2P lending.

“Hampir semua sektor industri terdampak pandemi covid-19, termasuk fintech P2PL juga terdampak cukup signifikan, khususnya sejak Maret sampai Juni 2020. Namun, secara akumulatif dibandingkan secara year on year jelas bertambah,” ujarnya, kepada Kontan, Kamis (13/8).

Pinjaman fintech P2P lending hingga paruh pertama 2020 itu disalurkan sebanyak 158 pemain terdaftar, dengan sebanyak 33 entitas telah mendapatkan izin. Sedangkan pinjaman yang disalurkan pada periode sama tahun lalu hanya dilakukan 113 entitas terdaftar, dengan hanya tujuh pemain yang mengantongi izin.

Sayangnya, Tumbur mengaku, asosiasi belum menerima data terbaru hingga Juni 2020. Sehingga, ia belum bisa merinci segmen pinjaman apa saja yang mengalami pertumbuhan.

Kendati demikian, catatan AFPI hingga Mei 2020, selama masa wabah covid-19 secara umum penurunan terjadi hampir pada sebagian besar platform penyelenggara fintech P2P lending. Tetapi, ada beberapa sektor yang mengalami peningkatan penyaluran pembiayaan, khususnya di sektor produktif.

Pinjaman yang masih bertumbuh pada sub-sektor kesehatan, seperti UMKM farmasi, dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sub-sektor yang terkait distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan.

Sub-sektor telekomunikasi dan online ecosystem yang menjadi layanan juga semakin banyak digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari dan berpotensi untuk berkembang terus seiring dengan pergeseran perilaku konsumsi masyarakat. (Kontan/Maizal Walfajri)

Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved