Breaking News:

Berita Semarang

Penasehat Hukum Pelaku Pemukulan Perawat Klinik Pratama Hadirkan Dua Saksi Meringankan

Penasehat hukum terdakwa dari LBH Rupadi Semarang, mendatangkan dua saksi meringankan.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Daniel Ari Purnomo
Istimewa
Saksi meringankan memberikan keterangan dalam sidang lanjutan kasus pemukulan perawat Klinik Pratama Dwi Puspita di PN Semarang, Rabu (19/8/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sidang lanjutan terdakwa Budi Cahyono atas kasus pemukulan terhadap perawat di Klinik Pratama Dwi Puspita, Semarang Timur, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (19/8/2020).

Dalam sidang tersebut, penasehat hukum terdakwa dari LBH Rupadi Semarang, mendatangkan dua saksi meringankan. Mereka yaitu Agus Rohadi (41), teman kecil terdakwa dan Yatimo (41), Sekretaris RT tempat tinggal terdakwa.

Dalam keterangannya, saksi Agus Rohadi menuturkan, terdakwa sebenarnya berkelakuan baik sejak masih kecil. Terdakwa juga rajin mengaji dan mengikuti acara pengajian.

"Namun perilakunya mulai berbeda sekitar tahun 2000-an. Dia pernah dipukul orang. Sejak saat itu tingkah lakunya kadang aneh," katanya.

Perilaku aneh tersebut kadang ditunjukkan terdakwa di lingkungan tempat tinggalnya. Namun para tetangga membiarkannya sepanjang tidak menimbulkan keonaran.

Sementara saksi Yatimo mengatakan, selama menjadi pengurus RT, ia melihat bahwa hubungan sosial terdakwa dengan warga lainnya cukup baik. Terdakwa juga sering mengikuti acara seperti kerja bakti. Meskipun begitu, diakuinya ada keanehan yang kadang dilakukan terdakwa.

"Saya tidak berani menjudge itu normal atau tidak. Tapi yang jelas perilakunya kadang cenderung berbeda dengan orang pada umumnya," ucapnya.

Kelakuan aneh itu biasanya terjadi ketika terdakwa sedang mendapat tekanan. "Kalau ada tekanan atau apa biasanya terus berbuat di luar kewajaran. Tapi kalau kami sebagai warga, sudah maklum, sudah paham dengan kondisinya," imbuhnya.

Perlu diketahui, kasus pemukulan perawat dengan terdakwa Budi Cahyono terjadi di Klinik Pratama Dwi Puspita, Semarang Timur, pada 9 April 2020 lalu.

Saat itu terdakwa membawa anaknya yang sedang sakit batuk dan panas untuk berobat. Ketika datang, terdakwa tidak mengenakan masker padahal sedang pandemi Covid-19. Sesuai aturan, klinik tidak melayani pasien yang tidak memakai penutup hidung dan mulut.

Melihat kedatangan terdakwa Budi, Hidayatul Munawaroh seorang perawat di Klinik Pratama kemudian menegur dan menyarankan pulang dulu mengambil masker. Namun terdakwa tidak mau. Terdakwa justru marah-marah lalu memukul kepala Hidayatul 1 kali dengan tangan kosong.

Atas perbuatannya, jaksa Kejari Semarang mendakwa Budi Cahyono dengan pasal berlapis yaitu melanggar Pasal 335 ayat (1) dan Pasal 351 ayat (1) ke-1 KUHP. (Nal)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved