Breaking News:

Puisi

Puisi Mata Air Joko Pinurbo

Puisi Mata Air Joko Pinurbo: Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.

TWITTER/KOMPASMUDA_JGJ
Joko Pinurbo 

Puisi Mata Air Joko Pinurbo

TRIBUNJATENG.COM - Puisi Mata Air Joko Pinurbo:

Mata Air

Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.
Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong
menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan.
Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing,
pecah di padang-padang gersang.

Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mata air
yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah,
menuai air mata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.

Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil
yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia
tapi belum ingin meneteskan air mata. Nanti, jika musim hujan tiba,
langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air matanya.

(2002)

(*)

Penulis: iam
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved