Breaking News:

Sapu Rayung Buatan Khamim Mungkid Tembus Pasar Ekspor

Sapu Rayung Buatan Khamim Mungkid Tembus Pasar Ekspor Srilanka maupun Jepang. Kini setelah new normal produksi meningkat lagi

Sapu Rayung Buatan Khamim Mungkid Tembus Pasar Ekspor - khamim-sedang-membuat-sapu-rayung-di-mungkid.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
MEMBUAT SAPU - Khamim sedang membuat sapu rayung di Desa Karang, Rambeanak 1, Mungkid Kabupaten Magelang.
Sapu Rayung Buatan Khamim Mungkid Tembus Pasar Ekspor - proses-pembuatan-sapu-rayung-di-magelang.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
MEMBUAT SAPU - Khamim sedang membuat sapu rayung di Desa Karang, Rambeanak 1, Mungkid Kabupaten Magelang.
Sapu Rayung Buatan Khamim Mungkid Tembus Pasar Ekspor - proses-pembuatan-sapu-rayung-di-mungkid-magelang.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
MEMBUAT SAPU - Khamim sedang membuat sapu rayung di Desa Karang, Rambeanak 1, Mungkid Kabupaten Magelang.

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Sejumlah daerah telah memproduksi sapu rayung, ijuk, maupun jenis sapu lidi. Di Kabupaten Magelang, tepatnya di desa Karang, Rambeanak 1, Mungkid terdapat UMKM yang memproduksi sapu rayung.

Satu di antaranya adalah keluarga Mumtarih (75). Dulu bertahun-tahun jual sapu keliling kampung kemudian sekarang memproduksi sendiri. Kakek itu dibantu oleh Khamim (44) anaknya dan beberapa pekerja.

Tim mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang magang jurnalistik di Tribunjateng.com mengunjungi rumat Khamim tempat produksi sapu rayung, Selasa (18/8/2020) di desa Karang, Mungkid.

Menurut keterangan Khamim, keluarganya sudah menekuni usaha produksi sapu rayung selama 53 tahun. Sehingga sudah pengalaman dan paham mana bahan yang bagus serta awet. Produk sapu rayung buatannya pun tak mudah rontok untuk menyampu lantai, dan hasilnya bersih.

"Dulu hampir 5 tahun Pak Muntarih jualan sapu keliling kampung. Akhirnya memutuskan untuk memproduksi sendiri bersama keluarga," terang Khamim sambil memilah-milah bahan sapu dan memangkasnya.

Sapu rayung berwarna kuning kecoklatan. Tankai atau pegangan sapu menggunakan bambu. Menurtu Khamim, bahan baku rayung didatangkan dari Purbalingga. Bunga rayung berasal dari pelepah tanaman gelagah. Sedangkan tangkai atau pegangan menggunakan bambu jenis cendani yang berasal dari Wonosobo. Kain untuk memilin dan mengikat rayung didatangkan dari Bandung.

Saat ini sapu rayung sudah jadi produk khas Magelang. Di sejumlah tempat wisata mudah dijumpai jenis sapu ini dan murah harganya. Di jalan Magelang-Yogyakarta juga terdapat sapu-sapu rayung ini dipajang dijual. "Sapu rayung lebih lembut dibanding bahan lain. Tahan lama dan nyaman untuk menyampu lantai," terang Khamim.

Proses pembuatannya, pertama, tangkai rayung diplintir atau dibalut pakai kain sekitar 7-10cm dari atas. Kedua, tangkai rayung yang sudah diplintir disatukan dan disusun pakai besi kecil, agar rayung kokoh tidak mudah lepas.

Kemudian pada pangkal rayung dipaku sehingga menimbulkan bentuk yang unik. Tahap akhir, ujung tangkai rayung dipotong rata dan dijahit pada pangkalnya, agar terlihat mengembang. Lalu, bagian ujung atas bambu dibor dilubangi untuk pemasangan tali.

Menurut Khamim, ada dua jenis sapu rayung yaitu bengol dan jari. Ukuran sapu bengol lebih besar daripada sapu jari. Harganya pun berbeda, satu sapu bengol Rp 8.500 per unit. Sedangkan sapu jari hanya Rp 7.000 saja. Kepada pekerjanya, Khamim memberi upah untuk pembuatan satu sapu jari Rp 1.000 sedangkan jenis sapu bengol Rp 1.100 per unit.

Dalam sehari, keluarga Muntarih menghasilkan 200 pcs sapu. Namun selama pandemi ini produksi tak menentu. Kadang sehari hanya membuat 100 sapu saja. Dulu omzet sebelum pandemi bisa Rp 200 ribu sehari. "Tapi alhamdulillah sekarang mulai naik lagi," kata Khamim.

Kendala yang dialami Muntarih dan Khamim untuk meningkatkan produksi sapu yaitu masalah modal dan bahan baku. "Kadang ada modal tapi bahan baku tiba-tiba naik atau langka," terangnya.

Pemasaran sapu rayung, dititipkan di pengepul, toko-toko, dan dikirim ke luar Magelang. Bahkan sebagian sudah diekspor sesuai pesanan orang di Srilanka dan Jepang. (Mahasiswa UIN magang jurnalistik di Tribunjateng.com/Faricha Azizah, Naghma Rangela L)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved