Breaking News:

Bisnis Karoseri Tahun Ini Diperkirakan Anjlok

Tren bisnis industri karoseri cenderung mengikuti pergerakan permintaan pasar mobil nasional.

(instagram/hudan_fachrudi)
ilustrasi - Bus Karoseri Tentrem single glass 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Industri karoseri tak kuasa menahan hantaman pandemi covid-19. Hingga semester kedua tahun ini, para pelaku industri melihat permintaan pasar masih belum pulih seperti kondisi normal sebelum pandemi.

"Kondisi sekarang memang belum menunjukkan pertumbuhan yang baik," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo), TY Subagyo, kepada Kontan, Jumat (21/8).

Sayangnya, Askarindo memiliki keterbatasan untuk memproyeksikan pasar karoseri dan pertumbuhan industri ini. Sebab, Subagyo menuturkan, pelaku usaha ini yang mendaftarkan diri ke asosiasi baru 40 persen dari total industri karoseri di Jawa dan Sumatera yang berjumlah 550 perusahaan, baik kecil maupun besar.

Biasanya, menurut dia, tren bisnis industri karoseri cenderung mengikuti pergerakan permintaan pasar mobil nasional, lantaran sebagian besar bus, truk, dan kendaraan komersial ialah produk dari pabrik karoseri lokal.

Dengan prediksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bahwa pasar mobil akan merosot 40 persen tahun ini, Subagyo menyatakan, pasar karoseri juga akan turut mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemperin) mencatat kapasitas produksi truk mencapai 93.000 unit setiap tahun yang menjadi pasar utama industri karoseri. Di tengah pelemahan bisnis karoseri, Subagyo menilai, permintaan segmen kendaraan angkutan barang alias logistik tampaknya masih ada.

Dia menambahkan, beberapa industri karoseri sudah ada yang memproduksi kendaraan logistik tersebut. "Memang demand logistik masih ada, tapi kecil. Sedangkan bus kondisinya belum baik," tuturnya.

Di tengah pelemahan ekonomi ini, Subagyo berujar, industri karoseri berharap ada stimulus dari pemerintah untuk mendukung efisiensi dan peningkatan daya saing.

Satu di antaranya, asosiasi berharap ada keringanan di Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mana untuk pembuatan rancang bangun kendaraan masih tinggi, yaitu untuk angkutan barang Rp 35 juta, dan penumpang Rp 40 juta.

"Industri karoseri masih berharap bisa turun. Untuk komponen dan bahan baku yang masih impor agar dapat diberikan fasilitas keringanan Bea Masuk," ucapnya. (Kontan.co.id/Agung Hidayat)

Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved