Breaking News:

Rasiya Sedih Nggak Bisa Kirim Keripik Pisang ke Medan dan Bali

Situasi pandemi Covid-19 saat ini juga berdampak pada sulitnya pengiriman produk UMKM. Satu di antaranya produk Pisang Aroma khas Temanggung.

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Pisang Aroma produk UMKM rumahan di Desa Gringsing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung 

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Situasi pandemi Covid-19 saat ini juga berdampak pada sulitnya pengiriman produk UMKM. Satu di antaranya produk Pisang Aroma Adi Lestari khas Temanggung.

Pisang Aroma produksi UMKM rumahan di Desa Gringsing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung ini digemari konsumen. Selain rasa dan aromanya yang khas, juga daya tahan hingga 6 bulan.

Bu Rasiya pemilik usaha Pisang Aroma ketika ditemui mahasiswa UIN Walisongo Magang Jurnalistik di Tribunjateng.com mengatakan, saat ini memang bahan pisang mudah diperoleh. Harga minyak dan gula juga sedang turun. Tapi sayangnya, mau jual produknya agak susah.

"Sekarang usaha sedang menurun. Kalau biasanya bisa kirim ke Bali dan Medan kini tak bisa lagi. Dulu supermarket biasanya pesan 1 kwintal, sekarang cuma 25 bungkus. Hampir semua jenis produk kami turun lebih dari 50 persen," terang Bu Rasiya, 18 Agustus 2020 lalu.

Proses pembuatan keripik pisang aroma khas Temanggung
Proses pembuatan keripik pisang aroma khas Temanggung (tribunjateng/mahasiswa UIN Magang)

Memang bahan mentah gampang dan stok banyak, tapi mau jual produk susah. Kirim ke luar daerah juga banyak kendala. Padahal camilan ini disukai banyak konsumen. Biasanya produk cepat habis di supermarket atau toko-toko di tempat pariwisata. Sekarang permintaan juga menurun.

Diterangkan oleh Rasiya, dia memulai usaha membuat camilan ini sudah sejak 24 tahun silam. Dulu bikin ceriping 11 varian. Lambat laun mengerucut hanya pisang aroma sesuai tingginya permintaan konsumen. "Ini kunamai Adi Lestari, anak ragil saya, biar berkembang besok dia lestarikan usahanya," ujar Bu Rasiya.

Awalnya pisang aroma panjang-panjang sebagaimana dulu dibawa pertama oleh orang dari Bandung. Tapi kemudian Bu Rasiya membuat sendiri dan memodifikasinya menjadi pendek-pendek. Dan ternyata itu lebih laris dan tahan lama. Rasanya ada pisang aroma manis, asin atau pedas manis.

Bahan pisang didatangkan dari Sumowono Kabupaten Semarang. Cara pembuatannya, pertama membuat adonan kulit dari tepung terigu. Setelah masak, dikasih gula dan pisang lalu digulung. Bentuk panjang gulungan itu lalu dipotong-potong kecil. Kemudian digoreng. Setelah digoreng dimasukkan ke penyedotan minyak biar tak mengandung banyak minyak. Baru setelah kering, proses pengemasan.

Sebelum pandemi corona, Rasiya memperkerjakan 10 orang. Namun saat ini hanya 6 orang saja. Pemasaran pisang aroma di Temanggung, Semarang, Salatiga, Banjarnegara dan lain-lain. Selama pandemi ini pengiriman produk ke Medan dan Bali sementara terhenti. Dia berharap pandemi corona ini segera berlalu sehingga usaha bisa kembali maju. (Tribunjateng.com/Mahasiswa UIN Magang/Mega Yunira/Peni Dwiyanti)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved