Breaking News:

Muslich sudah 33 Tahun Tekuni Usaha Keripik Talas

Melihat banyaknya dagangan talas di pasar di Kota Temanggung tak laku, Muslich (65) berinisatif untuk memanfaatkan dan mengolahnya menjadi camilan.

tribunjateng.com/magang UIN Walisongo
Proses pembuatan dan pengemasan keripik talas buatan Muslich di Temanggung 

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Melihat banyaknya dagangan talas di pasar di Kota Temanggung tak laku, Muslich (65) berinisatif untuk memanfaatkan dan mengolahnya menjadi camilan. Dia mengolah talas-talas itu menjadi keripik yang bernilai ekonomis tinggi.

Kemudian dia mengolah talas itu menjadi keripik. Supaya produk buatannya disukai masyarakat dan menyehatkan, Muslich bikin keripik itu tanpa bahan pengawet. Dia beri nama "Kripik Talas Manding", dengan talas sebagai bahan utama. Manding adalah nama desa tempat dia memproduksi keripik talas itu.

"Saya membuat eksperimen budidaya talas ini bagaimana supaya bernilai jual tinggi di pasaran dan dapat dimanfaatkan sebagai makanan ringan yang sehat tanpa pengawet dan MSG," kata Muslich, Sabtu 15 Agustus silam.

Muslich (65) warga Temanggung menunjukkan produk keripik talas buatannya yang kini kondang
Muslich (65) warga Temanggung menunjukkan produk keripik talas buatannya yang kini kondang (tribunjateng.com/magang UIN Walisongo)

Diterangkannya, usaha ini dia rintis sejak 1987. Namun kemajuan dan keberhasilan usaha keripik talas sejak tahun 1990 hingga sekarang. Masyarakat Temanggung dan sekitarnya sudah mengenal Keripik Talas Manding. Rasanya renyah dan gurih tanpa bahan pengawet.

Penggemar Keripik Talas Manding tidak hanya dari warga Temanggung saja. Produk UMKM buatan Muslich ini dipasarkan sampai kota-kota di Jawa antara lain Yogyakarta, Semarang, Magelang, Kudus, Bandung, Jakarta, Solo, Bogor, Jepara, Purwokerto, Banjarnegara, Tangerang, Cilacap dan hingga Madura.

Untuk varian rasa yang disajikan dalam produknya original. Selain membuat keripik talas, Muslich juga memproduksi keripik bayam, pisang kepok, jagung, sukun dan keripik singkong.

Bahan mentah keripik talas adalah talas atau kimpul. Dalam satu bulan dia memasak 3 ton talas menjadi 30 kilogram keripik talas. Bahan mentah berupa kimpul dia beli dari petani desa Manding dan jika kurang baru ambil dari Banjarnegara. Menurutnya, bahan mentah agak sulit dicari ketika musim hujan. Dia utamakan bahan talas atau kimpul yang bagus supaya menghasilkan keripik yang super.

Proses pembuatannya, talas dikupas lalu dicuci bersih. Setelah itu talas dimasukkan ke dalam mesin pemotong yang dibuat sendiri oleh Muslich. Mesin pemotong tersebut langsung terhubung dengan wajan yang berisi minyak mendidik. Talas yang terpotong langsung digoreng di wajan serta memasukkan bumbu cair hasil racikan. Langkah terakhir packing atau pengemasan.

Sejauh ini Muslich mempekerjakan satu orang karyawan dan dibantu istrinya. Dulu sebelum ada pandemi corona, dalam sebulan omzet mencapai Rp 45 jutaan dengan keuntungan sekitar 15 persen. Namun saat ini sedang pandemi, permintaan menurun. "Ada uang ada barang. Selama pandemi hanya melayani pesanandan dikirim sesuai permintaan konsumen," kata Muslich.

Ada kendala yang dialami antara lain kadang kesulitan bahan baku saat musim hujan. Keripik buatannya tahan hingga satu bulan meski tanpa pengawet. Dari hasil usahanya tersebut Muslich dapat menyekolahkan dua anaknya hingga sarjana, membangun rumah beserta tempat produksinya.

Meski Muslich tidak lulus SD tapi berkat ketekunan dan keuletannya menjalankan usaha keripik talas ini, dia berhasil mewujudkan cita-citanya menyekolahkan dua anaknya hingga sarjana. (Mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik Tribunjateng.com/Peni Dwiyanti/Mega Yunira)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved