Breaking News:

Industri Fintech Diperkirakan Terus Berkembang di Tengah Pandemi

Fintech dinilai memiliki peluang untuk berinovasi, khususnya dalam mengembangkan UMKM.

shutterstock.com
Fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) memperkirakan ekosistem fintech masih mampu untuk berkembang di tengah pandemi. Industri itu juga diyakini dapat terus berkembang meski dihadapkan oleh tantangan.

Hal itu diungkapkan Chairman Aftech, Niki Luhur. "Terbukti, anggota Aftech saat ini sebanyak 362 anggota dari 23 jenis bisnis, yang terbagi seperti digital payment, digital lending, digital capital raising, hingga insurtech," ujarnya, dalam acara OJK virtual Innovation Days, Senin (24/8).

Di tengah pandemi pula, dia menambahkan, fintech memiliki peluang untuk berinovasi, khususnya dalam mengembangkan UMKM. Apalagi, sampai saat ini hampir seluruh pelaku fintech telah menyalurkan pinjaman kepada UMKM.

"Kami juga memiliki kelompok kerja untuk mendorong advokasi dan pemanfaatan fintech. Kami optimistis fintech memiliki peluang untuk berkembang pesat, sehingga membuatnya dapat terus berinovasi," katanya.

Ketua Harian Aftech, Mercy Simorangkir menuturkan, telah menetapkan beberapa strategi dalam upaya meminimalisir dampak pandemi covid-19 yang sempat memukul aktivitas bisnis itu.

Menurut dia, hal itu seperti meminta anggotanya untuk mengurangi biaya operasional, melakukan peningkatan manajemen keuangan, serta mendukung masyarakat dalam mendapatkan pinjaman pendanaan.

“Kami juga melihat anggota kami turut membantu masyarakat dengan memberikan keleluasaan finansial, misalnya memberikan dukungan keuangan,” ujarnya.

Adapun, pandemi covid-19 yang masih mewabah tak menyebabkan pinjaman di sektor fintech P2P lending surut. Hingga akhir Juni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp 113,46 triliun, tumbuh 153,23 persen yoy, dari periode sama tahun lalu Rp 44,8 triliun.

Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital, Sukarela Batunanggar menyatakan, melalui fenomena itu ke depan fintech diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus kemandirian ekonomi bagi masyarakat.

Dengan peluang yang dimiliki, dia menambahkan, pembiayaan fintech ke depan sekaligus diharapkan dapat mendorong perekonomian, khususnya masyarakat yang belum memiliki akses keuangan, dan mendorong inklusi keuangan.

“Kami berharap pembiayaan yang telah disalurkan oleh fintech bisa mendorong perekonomian, agar terciptanya inklusi keuangan,” ucapnya.

Senada, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Nurhaida menuturkan, pemanfaatan fintech dalam memulihkan perekonomian nasional menjadi peluang. Sebab, ia menilai, Indonesia merupakan satu negara dengan pertumbuhan industri digital yang masih pasif.

“Saat ini sektor keuangan kita telah berhasil melewati masa-masa sulit. Dalam hal ini, OJK telah bekerja sama dengan institusi terkait untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Terlebih, saya menilai kebutuhan literasi keuangan di Indonesia semakin penting, karena literasi keuangan digital memiliki peran penting dalam membangun perekonomian,” tandasnya.

Nurhaida mengatakan, fintech memiliki peran penting untuk mengubah bisnis, khususnya di masa pandemi. Sejak pandemi, masyarakat Indonesia cenderung membutuhkan produk keuangan yang berbasis digital.

"Namun, perlu diberikan stimulus guna mendorong UMKM, sehingga pemulihan perekonomian nasional dapat segera diproses," ujarnya. (Kontan/Annisa Fadila)

Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved