Breaking News:

Stikes Telogorejo Semarang

Bullying Berakibat Bunuh Diri

Bullying sendiri didefinisikan sebagai perilaku agresif dimana tidak seimbangnya kekuatan pelaku dan korban bully.

IST
Bullying didefinisikan sebagai perilaku agresif oleh tidak seimbangnya kekuatan pelaku dan korban bully 

Oleh: Ns. Ni Made Ayu Wulansari, M.Kep
Dosen Stikes Telogorejo Semarang

DI BEBERAPA berita diinformasikan mengenai kejadian bunuh diri akibat bullying secara langsung dan media sosial. Seperti halnya yang terjadi pada kasus bunuh diri yang dilakukan oleh artis Korea Selatan. Banyak dugaan bahwa artis tersebut melakukan tindakan bunuh diri karena bullying yang dialami melalui media sosial. Sebenarnya tindakan yang menjadi bagian dari bullying itu apa saja?

Bullying sendiri didefinisikan sebagai perilaku agresif dimana tidak seimbangnya kekuatan pelaku dan korban bully (Olweus dalam Wang, 2012). Tindakan bullying dapat berupa cyber bullying dan tradisional bullying. Cyber bullying terjadi melalu alat komunikasi seperti komputer, internet dan handphone sedangkan tradisional bullying berupa bullying kepada pelaku secara fisik dan verbal (Wang, 2012).

Di era teknologi yang semakin canggih sering terdapat informasi di media terjadi komentar negatif dari seseorang pada artis baik dari Indonesia maupun luar negeri. Komentar ini biasanya bersifat anonim dan sulit mendeteksi siapa sebenarnya yang memberikan komentar negatif, hal ini berbeda dengan tradisional bullying yang terjadi face to face (Bonanno & Hymel, 2013). Kejadian komentar negatif pada sosial media merupakan salah satu bentuk cyber bullying yang perlu diwaspadai.

Hal ini dikarenakan dampak cyber bullying dan tradisional bullying berisiko pada bunuh diri (Hinduja & Patchin, 2010). Selain itu, cyber bullying juga dapat menyebabkan korbannya mengalami depresi (Bonanno & Hymel, 2013). Penelitian dari Bonanno dan Hymel (2013) juga menemukan semakin tinggi akses teknologi disekolah dan rumah meningkatkan risiko terjadinya cyber bullying.

Cyber bullying tidak hanya dialami oleh publik figur tetapi juga dapat dialami oleh anak remaja. Di Korea Selatan, pada penelitian Kim, Leventhal, Koh dan Boyce (2009), menemukan remaja korea yang mengalami tindakan bullying meningkatkan risiko keinginan bunuh diri. Keinginan bunuh diri pada korban bully dikarenakan perasaan cemas dan depresi akibat tindakan bullying yang dilakukan pelaku. Tindakan bullying juga menyebabkan gangguan identitas diri terutama pada remaja (Holt, et.al., 2015).

Oleh karena itu, semakin berkembangnya teknologi perlu memahami adanya masalah psikologis yang muncul, salah satunya adalah cyber bullying. Pemahaman penggunaan sosial media pada remaja dapat membantu remaja untuk tidak melakukan cyber bullying di sosial media. Bullying pada sosial media juga perlu diwaspadai karna dampaknya sama dengan tradisioanal bullying. Korban bullying yang mengatakan keinginan bunuh diri juga perlu segera di tangani oleh professional untuk mencegah kejadian bunuh diri. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved