Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Wisata

Kisah Van De Jong, Sosok Modernisasi Perkebunan Teh Kaligua Brebes

Agrowisata tersebut adalah Perkebunan Teh Kaligua yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX atau sering disebut PTPN 9. Lokasinya berada di Desa P

Tayang:
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: m nur huda

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Udara sejuk seketika membuat rambut-rambut pendek halus di bagian tengkuk berdiri.

Segarnya udara yang jauh dari polusi asap pabrik dan padatnya lalu lalang kendaraan, masih dapat dirasakan oleh hidung.

Kedua bola mata juga ikut dimanjakan dengan hijaunya hamparan perkebunan teh.

Suasana asri itu berada di daerah selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Perkebunan teh yang memiliki luas sekira 640 haktare dengan ketinggian 1.500- 2.000 meter di atas permukaan laut.

Agrowisata tersebut adalah Perkebunan Teh Kaligua yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX atau sering disebut PTPN 9. Lokasinya berada di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.

Namun siapa yang menyangka, di balik kemegahan Perkebunan Teh Kaligua, ada sosok berjasa yang melakukan modernisasi di masa penjajahan.

Pengunjung sedang menikmati wahana sepeda air di area perkebunan teh Agrowisata Kaligua, Brebes.
Pengunjung sedang menikmati wahana sepeda air di area perkebunan teh Agrowisata Kaligua, Brebes. (Tribun Jateng/Fajar Bahruddin Achmad)

Dia adalah Van De Jong.

Warga berkebangsaan Belanda yang menganggap pekerja pemetik teh di area perkebunan sebagai keluarga. Dia juga dikenal sebagai sosok yang mencintai kebudayaan Jawa.

Sejarawan, Wijanarto mengatakan, keberadaan perkebunan teh di Kaligua cukup tua, sekira 1889. Secara historis, Van De Jong menjadi sosok yang memodernisasikan Perkebunan Teh Kaligua.

Ia menjelaskan, Van De Jong adalah garis kedua yang mengelola perkebunan teh di Kaligua.

Sebelumnya perkebunan teh dikelola oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Pengunjung sedang berfoto di area perkebunan teh di Agrowisata Kaligua, Brebes.
Pengunjung sedang berfoto di area perkebunan teh di Agrowisata Kaligua, Brebes. (Tribun Jateng/Fajar Bahruddin Achmad)

Menurut Wijanarto, pihak swasta seperti Van De Jong, bisa mengelola perkebunan seusai lahirnya regulasi pada 1870.

Van De Jong membeli Perkebunan Teh Kaligua yang saat itu bernama Van John Pletnue & Co, pada 1901.

“Mulanya pemerintah yang menjajah (red, Belanda), saat itu memonopoli perkebunan, baik penanaman maupun kepemilikan. Tapi kemudian ada desakan dari kelompok liberal yang juga ingin mengelola kekayaan aset tanah di Hindia Belanda,” kata Wijanarto kepada trbunjateng.com. Jumat (28/8/2020).

Wijanarto mengatakan, masyarakat setempat mengenal Van De Jong sebagai orang yang mencintai kebudayaan Jawa. Dia dikenal suka dengan hal klenik, seperti keris.

Dia juga memiliki istri yang asli orang Jawa.

Semasa mengelola perkebunan, menurut Wijanarto, Van De Jong menganggap para pemetik teh seperti keluarganya.

Hal itu dibuktikan dari perkampungan di area perkebunan yang menjadi tempat tinggal para pekerja.

Wijanarto menilai, rumah warga setempat di area perkebunan menjadi cara Van De Jong untuk menjalin kedekatan dengan para pemetik teh.

“Istrinya juga orang Jawa. Saking cintanya dengan kebudayaan Jawa, masyarakat melihat bulenya sudah hilang. Sekarang keturunannya masih ada, banyak di Ajibarang, Banyumas,” ujarnya.

Wijanarto menjelaskan, di masa modernisasi ada prosesi menarik di Perkebunan Teh Kaligua.

Saat itu Van De Jong memesan ketel uap dari Eropa. Ketel uap itu dibawa dari Pelabuhan Cilacap, kemudian melewati Banyumas, hingga sampai di Kecamatan Paguyangan Brebes.

Menurut Wijanarto, saat di Jatilawang Banyumas, Van De Jong menyewa para penari legger untuk menghibur para pekerja.

Para penari itu kemudian menghibur pekerja pembawa ketel uap hingga di Perkebunan Teh Kaligua.

Tiap diperistirahatan mereka akan dihibur.

“Sampai sekarang, setiap hari jadi PTPN di awal Juli. Pasti ada lengger yang khusus didatangkan dari Jatilawang,” katanya.

Wijanarto mengatakan, produksi teh dari perkebunan di Kaligua hingga kini masih ekspor ke luar negeri.

Kebanyakan pengiriman barang justru ke Eropa. Namun beberapa pasokan juga masuk ke Indonesia.

Ia menjelaskan, hingga kini Van De Jong masih menjadi sosok yang dikenang.

Van De Jong meninggal sebelum perang dunia kedua dan dimakamkan di area perkebunan.

Sementara pengelolaan perkebunan teh dari keluarga Van De Jong, saat itu diambil paksa oleh Jepang sekira 1942.

“Makam Van De Jong ada di area perkebunan itu. Ada tiga makam, konon salah satunya khusus dikuburkan pusaka-pusaka yang pernah dimiliki,” jelasnya. (fba)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved