Breaking News:

Ekonom Unisnu Jepara Sebut Ada Empat Permasalahan jika RUU Cipta Kerja Tak Segera Disahkan

Dua ekonom dari Kudus dan Jepara menyampaikan gagasan mereka mengenai RUU Cipta Kerja.

Screenshot layar
Samsul Arifin, Ekonom Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara mengungkapkan gagasannya terkait RUU Cipta Kerja dalam diskusi daring “Solusi Bangkitkan Ekonomi di Pantura Pasca Covid-19” yang digelar oleh Joglosemar Institute via Aplikasi Zoom, Selasa (1/9/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Dua ekonom dari Kudus dan Jepara menyampaikan gagasan mereka mengenai RUU Cipta Kerja. Mereka ialah Samsul Arifin, Ekonom Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara dan Mamik Indaryani, Ekonom Universitas Muria Kudus.

Mereka mengungkapkan gagasan terkait RUU kontroversial tersebut dalam diskusi daring “Solusi Bangkitkan Ekonomi di Pantura Pasca Covid-19” yang digelar oleh Joglosemar Institute via Aplikasi Zoom, Selasa (1/9/2020). Diskusi ini dimoderatori oleh Managing Director Joglosemar Institute Anas Syahirul.

Samsul Arifin mendukung pengesahan RUU Cipta Kerja. Sebab, menurutnya ada empat permasalahan yang akan terjadi apabila RUU tersebut tidak disahkan. Keempat permasalahan tersebut, menurutnya, berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

“Jika RUU Cipta Kerja tidak segera diberlakukan, ada empat permasalahan nyata yang bisa terjadi. Lapangan kerja jelas akan pindah ke negara lain yang lebih kompetitif. Daya saing pekerja kita akan relatif lebih rendah. Jumlah pengangguran juga akan sangat banyak. Selain itu Indonesia akan terus terjebak dalam middle income trap,” ujar dia.

Menurutnya, ada tujuan besar yang perlu dicapai Indonesia pada 2045. Tujuan bisa diwujudkan melalui langkah-langkah kecil yang strategis.

Ia berpendapat, regulasi dan perizinan harus diharmonisasi dan disimplifikasi. Kemudian, investasi yang berkualitas harus diciptakan seiring dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan pekerja yang berkelanjutan.

"Kalau regulasi yang ada tidak simpel dan tidak mendukung pengembangan dunia usaha, ini tentunya akan berdampak pada pengembangan ekonomi ke depannya," kata dia.

Samsul menambahkan, perubahan perspektif investor dalam memilah target investasi pasca Covid-19 juga mesti direspons secara tepat. Regulasi untuk mempermudah investasi masuk, menurutnya, adalah magnet yang diperlukan untuk menarik investasi masuk ke Indonesia.

"Pola tata kerja perusahaan dan perilaku masyarakat juga harus diawasi pasca Covid-19 ini. Dunia semakin berkembang dan saling sodok, kalau kita tidak siap dan masih bicara soal regulasi yang bertele-tele, kita pasti ketinggalan," tegas Samsul.

Sampai saat ini, pemerintah dan DPR masih melakukan pembahasan mengenai beleid RUU Cipta Kerja. Berbagai masukkan dari elemen-elemen seperti serikat pekerja dan pengusaha juga coba terus diakomodasi agar RUU ini bisa segera disahkan dan efeknya bisa terasa segera setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Halaman
12
Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved