Breaking News:

Pertamina Jamin Premium dan Pertalite Masih Tersedia di Pasaran

Sampai saat ini Pertamina masih tetap menyediakan dan menyalurkan Premium atau BBM RON 88 yang merupakan penugasan dari Pemerintah.

KOMPAS/PRIYOMBODO
Aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memastikan bahan bakar minyak jenis premium dan pertalite masih tersedia di pasaran. Hal tersebut dipastikan Pertamina terkait rencana penghapusan bahan bakar minyak yang memiliki oktan di bawah 90 tersebut.

"Sampai saat ini Pertamina masih tetap menyediakan dan menyalurkan Premium atau BBM RON 88 yang merupakan penugasan dari Pemerintah. Sepanjang peraturan berlaku, maka penugasan pun tetap dijalankan Pertamina dengan sebaik-baiknya, berdasarkan penugasan dari pemerintah, saat ini Pertamina masih menyalurkan dan menyediakan premium di Indonesia," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, Selasa(1/9).

Selain Premium, Pertamina juga menyediakan jenis BBM Umum yang meliputi Perta Series (Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo) dan Dex Series (Pertamina Dex dan Dexlite). “Pertamina juga masih menyediakan Pertalite dan BBM lainnya di SPBU di Indonesia. Untuk itu, masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap menggunakan BBM sesuai kebutuhan,”imbuhnya.

Penugasan penyaluran BBM jenis Premium tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 serta Kepmen ESDM Nomor 1851 K/15/MEM/2018. Namun dalam rangka mendukung agenda global untuk mengurangi kadar emisi gas buang kendaraan bermotor dan sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 20 Tahun 2017. Pertamina terus konsisten mengedukasi konsumen dan mendorong penggunaan BBM dengan kualitas lebih baik serta lebih ramah lingkungan sesuai kesepakatan dunia dan pemerintah, setiap negara berupaya menurunkan emisi karbon dan mengurangi polusi udara, salah satunya dengan menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.

"Seperti yang sudah kita rasakan sejak PSBB, langit biru dan udara lebih baik, untuk itu kami akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk yang lebih berkualitas,”ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan, pihaknya tengah melakukan pengkajian terkait penyederhanaan produk BBM mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 20 Tahun 2019 yang mensyaratkan standar minimal RON 91. "Kita akan mencoba melakukan pengelolaan hal ini karena sebetulnya Premium dan Pertalite ini porsi konsumsinya paling besar," kata Nicke.

Menurut dia, hanya tinggal tujuh negara yang masih menjual produk gasoline di bawah RON 90, yakni Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, Uzbekistan, dan Indonesia. Padahal, sebut Nicke, Indonesia masuk kelompok negara yang memiliki GDP 2.000 dollar AS hingga 9.000 dollar AS per tahun. Berdasarkan klasifikasi tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memasarkan jumlah jenis produk BBM paling banyak, yakni enam jenis produk.

Sementara itu Komisi VII DPR meminta PT Pertamina (Persero) melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat, sebelum menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite. "Perlu dilakukan saat ini adalah mensosialisasikan secara baik, agar berangsur-angsur pengurangan dari premium dan pertalite tidak menimbulkan gejolak," ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno.

Menurut Eddy, sosialisasi rencana dihapusnya premium maupun pertalite, hingga dampak positifnya ke depan sangat penting dilakukan agar masyarakat tidak terbebani membeli produk lainnya yang memiliki oktan di atas 90.

"Sosialisasi secara baik tidak menimbulkan gejolak dan diterima masyarakat, karena pada akhirnya masyarakat juga memahami dan memaklumi jika masalah lingkungan hidup adalah suatu hal yang baik," kata Wakil Sekretaris Jenderal PAN itu.

Eddy menyebut, Komisi VII akan mengawal dan mengevaluasi ketika Pertamina benar-benar merealiasikan penghapusan peredaran premium maupun pertalite di dalam negeri.  "Kami akan evaluasi dari waktu ke waktu jika memang timbul adanya dinamika di lapangan terkait penerapan dari kebijakan penghapusan premium dan pertalite," ujar Eddy.

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Gerindra Mulan Jameela juga meminta PT Pertamina (Persero) untuk menurunkan harga Pertamax seharga Premium. Hal itu ia sarankan menyusul rencana pemerintah menghapus BBM dengan kandungan RON rendah seperti Premium dan Pertalite.

"Sekadar masukan dari saya, apabila benar Premium dan Pertalite dihapus, apakah memungkinkan harga Pertamax bisa diturunkan mungkin bisa jadi sama dengan Premium? Mungkin ini bisa jadi solusi," ujarnya.

Mulan juga mempertanyakan sejauh mana Pertamina sudah melakukan kajian lebih dalam dan lebih luas terhadap masyarakat terkait rencana penghapusan Premium dan Pertalite ini. Pasalnya, penghapusan BBM jenis tersebut akan berdampak tidak baik untuk masyarakat.(tribun network/nas/sen/wly)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved