Breaking News:

Anak Desa Akrab dengan Gadget sejak Pembelajaran Daring, Ini Perubahan Perilakunya

Kebijakan pembelajaran daring dianggap solusi agar siswa tetap bisa mengakses pendidikan di tengah masa pandemi corona.

Tribun Jateng/ Akbar Hari Mukti
Komunitas K'ngen pasang wifi gratis di kampung Kobongan, Kelurahan Pringapus, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang untuk dimanfaatkan siswa belajar daring, Selasa (25/8/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Kebijakan pembelajaran daring dianggap solusi agar siswa tetap bisa mengakses pendidikan di tengah masa pandemi Covid 19. Tetapi di sisi lain, kebijakan itu dikeluhkan sebagian orang tua karena pengeluaran keluarga meningkat. Masyarakat bawah menjerit karena beban ekonomi mereka bertambah. 

Di Desa Pasuruhan, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara misalnya, sebagian orang tua yang rata-rata bermatapencaharian petani mengeluh karena harus memikirkan biaya pembelian  kuota internet untuk anaknya. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kesulitan. 

Sejumlah anak di Dusun 2 desa itu bahkan harus rela jatah jajan hariannya dipotong untuk membeli paket data internet.  Di lain sisi, pembelajaran daring memaksa anak-anak mengakrabi dunia tanpa batas internet. Anak-anak dan gadget kian tak terpisahkan. Dunia anak kini telah berubah. 

Belajar daring sudah terjadwal dan waktunya terbatas. Tetapi setelah mereka belajar, anak-anak ternyata enggan melepas smartphone dari genggamannya. Ada banyak hal yang lebih menarik di ponsel pintar mereka, ketimbang materi pembelajaran yang terbatas. Semisal game, hingga bermacam tontonan yang belum tentu ramah untuk anak usia sekolah. 

Bergaul di lingkungan digital nyatanya mampu memengaruhi perilaku anak yang cenderung negatif. 

"Kenyataannya pembelajaran daring membuat anak bebas mengakses macam macam situs. Ada kemungkinan anak anak menonton yang belum saatnya mereka tonton,"kata Purbo, pemerhati anak dari komunitas The Plegia Kabupaten Banjarnegara, Rabu (2/9)

Purbo mengatakan, anak anak mengalami perkembangan alami. Seiring bertambah usia, anak-anak mengalami fase penasaran dan mudah terperangah pada hal-hal baru. Pada fase ini, pendampingan dan pengawasan orang tua dibutuhkan agar ketertarikan anak terhadap hal baru terarah pada hal positif. 

Masalahnya, pendampingan orang tua terhadap anak dalam memanfaatkan smartphone di desa sulit dilakukan. Di samping kesibukan di ladang, orang tua di desa banyak yang gagap teknologi karena tingkat pendidikan rendah. 
Sang anak yang masih belia tak jarang lebih mahir mengoperasikan gadget di banding orang tuanya. 

Ini yang membuat orang tua sulit melakukan pendampingan saat anaknya berselancar di dunia maya. Mereka juga sulit mengontrol apakah situs-situs yang diakses anaknya baik untuk perkembangan mentalnya. 

Karena smartphone sudah menjadi teman keseharian anak di desa, ia menilai kehadiran relawan yang sadar teknologi dibutuhkan untuk mendampingi anak agar bijak beriternet. 

"Ada forum forum di desa, volunteer atau relawan sebenarnya bisa membantu dalam kondisi seperti ini. Mereka melakukan kerja pendampingan pendampingan ke warga dan anak,"katanya. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved