Breaking News:

Pertumbuhan DPK Valas Perbankan Terus Meningkat Sepanjang Pandemi Covid-19

Sejak Januari hingga Juli, DPK valas telah tumbuh 8,9 persen, sedangkan DPK rupiah tercatat tumbuh 4,5 persen.

SHUTTERSTOCK Via Kompas.com
Ilustrasi dolar AS 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar dollar AS terhadap rupiah yang sempat mencapai Rp 16.500 membuat sejumlah bank mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan yang tinggi.

Merujuk data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sampai Juli 2020 terhimpun DPK valas senilai Rp 904 triliun, atau setara 14,1 persen dari total DPK perbankan senilai Rp 6.388 triliun.

Sepanjang pandemi, pertumbuhan DPK valas selalu melampaui pertumbuhan DPK rupiah. Sejak Januari hingga Juli, DPK valas telah tumbuh 8,9 persen, sedangkan DPK rupiah tercatat tumbuh 4,5 persen.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatat pertumbuhan valas hingga empat kali lipat, dari Rp 3,05 triliun pada akhir tahun lalu, menjadi Rp 12,19 triliun pada Juni 2020.

Pertumbuhan utamanya ditopang simpanan giro yang tumbuh puluhan kali lipat dari senilai Rp 7,07 miliar di akhir tahun lalu, menjadi Rp 3,29 triliun pada Juni 2020. Pun deposito yang tumbuh dua kali lipat dari Rp 2,98 triliun di akhir tahun lalu, menjadi Rp 8,83 triliun per Juni 2020.

“Dana valas kami tumbuh cukup signifikan pada semester I, tetapi kebutuhan valas kami sebenanrya tak banyak, mengingat nasabah mayoritas BTN adalah sektor properti yang penghasilannya dalam rupiah,” ungkap Direktur Distribution & Retail Funding BTN, Jasmin.

Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan mengakui hal tersebut. Menurut dia, DPK valas perseroan selama pandemi tumbuh cukup signifikan, terutama untuk simpanan tabungan dan deposito.

“CASA (current account and saving account) valas terutama memang tumbuh signifikan hingga 20 persen, tetapi deposito valas menurun,” katanya, kepada Kontan, Jumat (4/9).

Meski tumbuh pesat, Lani menuturkan, sejatinya kebutuhan likuiditas valas tak besar, karena kebutuhan kredit dalam valas juga tak besar. Perseroan fokus menghimpun DPK rupiah, terutama dari dana murah untuk mengefisiensikan biaya dana.

Senada disampaikan Presiden Direktur PT Bank Panin Tbk, Herwidayatmo. Menurut dia, sejak awal kuartal II/2020 terjadi peningkatan DPK valas yang tinggi, meski secara tahunan masih menurun.

Hal itu sesuai dengan tren nilai tukar rupiah yang mulai melemah pada awal Maret, dan berada di titik puncak pada akhir Maret 2020, dengan nilai tukar Rp 16.550/dollar AS.

“Jika dilihat secara tahunan per Juni 2020, sebenarnya masih turun 1,57 persen, tetapi kalau dilihat pada kuartal II/2020, pertumbuhan total DPK sebesar 4 persen, DPK valas kami tumbuh 3,4 persen,” jelasnya. (Kontan/Anggar Septiadi)

Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved