Berita Batang

Harga Kedelai Impor Naik, Pelaku Usaha Pembuatan Tahu di Batang Terpaksa Kurangi Jumlah Produksi

Para pelaku usaha pembuatan tahu di sentra tahu di Desa Kebonan, Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang terpaksa harus mengurangi jumlah produ

Penulis: dina indriani | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Sejumlah pekerja di industri pembuatan tahu rumahan di Desa Kebonan, Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang sedang memproduksi tahu, Minggu (6/9/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Para pelaku usaha pembuatan tahu di sentra tahu di Desa Kebonan, Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang terpaksa harus mengurangi jumlah produksi.

Hal itu lantaran tingginya harga kedelai yang meningkat hingga 50 persen dari biasanya.

Apalagi pada masa pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung juga membuat jumlah permintaan tahu menurun.

Satu di antara pelaku usaha pembuatan tahu rumahan, Wiwit mengatakan terpaksa mengurangi jumlah produksi sejak beberapa bulan terakhir.

Saat ini dirinya hanya mampu membuat 1 kwintal perhari, dari produksi normal 1,5 kwintal sampai 2 kwintal perhari.

"Mungkin ini juga jadi salah satu dampak dari pandemi Covid-19, harga kedelai impor juga naik cukup tinggi, jadi saya mau tidak mau harus kurangi jumlah produksi yang tadinya bisa sampai 2 kwintal paling sekarang 1 kwintal perhari," tuturnya, Minggu (6/9/2020).

Dia mengatakan harga kedelai impor saat ini telah mencapai Rp 8 Ribuan perkilogram jika sebelumnya berkisar di angka Rp 6 Ribuan perkilogram.

Harga tersebut diakuinya terbilang cukup tinggi, sehingga satu-satunya cara menyiasati adalah mengurangi jumlah produksi.

"Ya mau bagaimana lagi harus kurangi produksi agar bisa bertahan dan tidak terlalu merugi," ujarnya.

Wiwit yang sudah menjalankan usaha pembuatan tahu sejak puluhan tahun itu mengaku baru merasakan dampak yang cukup mmenyulitkannya dan pelaku usaha tahu lainnya karena pandemi Covid-19.

"Di masa sekarang ini, kami harus pintar putar otak bagaimana caranya agar usaha tidak gulung tikar, karena harga bahan baku naik, dan di masa pandemi ini juga permintaan berkurang," pungkasnya. (din)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved